Irommi, ibu rumah tangga asal Desa Merkapura Kecamatan Pulau Laut Tengah Kabupaten Kotabaru ini tak habis pikir. Ia menghitung, saban bulan ada saja kenaikan harga beras di pasar.
Untuk makan sehari-hari, keluarganya memilih beras pulen. Irommi ingat betul, awal tahun tadi harganya Rp30 ribu per gantang. Sekarang menjelang akhir tahun sudah Rp38 ribu.
Bahkan untuk beras pera (karau), satu gantang yang dulu dihargai Rp35 ribu, sekarang sudah Rp42 ribu. “Di kampung sini, rata-rata orang membeli beras lokal yang paling murah. Beras asal Desa Salino di Pulau Laut Tengah. Atau beras dari Pagatan (Kabupaten Tanah Bumbu),” ujarnya (19/12).
Irommi juga mengeluh lantaran selama ini keluarganya tak pernah kebagian bantuan langsung tunai (BLT).
Pantauan Radar Banjarmasin di Pasar Kemakmuran, salah seorang pedagang, Haji Ardian mengatakan beras di Kotabaru sudah naik Rp10 ribu per liter.
Berlaku untuk beras Sulawesi, beras Banjar karau dan beras Siam. “Kalau tahun 2021 dulu, beras Sulawesi dijual sekitar Rp30 ribuan. Sekarang di akhir tahun 2022 sudah mendekati Rp40 ribu,” sebutnya. Rinciannya, beras karau Banjar Rp48 ribu per gantang, beras Sulawesi Rp38 ribu dan beras Siam Rp55 ribu.
“Selain mahal, lumayan susah memperolehnya. Harus pesan dulu ke pemasok. Jatah pedagang juga terus dikurangi,” tambahnya. Setahunya, ini dipicu oleh gagal panen yang terjadi di mana-mana.
Di Kota Banjarmasin, sama saja. Supri, salah seorang pedagang beras di Pasar Lama, Banjarmasin Tengah, mengaku kesulitan mendapatkan pasokan beras.
Kalau pun dapat, harganya sudah beda. Beras lokal berbagai jenis, mengalami kenaikan harga antara Rp3 ribu sampai Rp5 ribu per liter. “Untungnya karena tergolong kebutuhan pokok, jadinya masih laku,” ujarnya.
Di pasar tradisional di Jalan Perintis Kemerdekaan ini, harga beras lokal seperti Mutiara, Unus dan Mayang sudah mencapai Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per liter. (jum/mof/gr/fud)