Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Literasi Numerasi Banjarbaru Dapat Rapor Kuning, Guru Bakal jadi Lebih Lelah

izak-Indra Zakaria • 2022-12-28 12:30:19
BELAJAR: Siswa SMPN di Banjarbaru sedang belajar di kelas.
BELAJAR: Siswa SMPN di Banjarbaru sedang belajar di kelas.

Hasil Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang diprogramkan Kemendikbud dengan tujuan mengevaluasi mutu pendidikan, sudah diumumkan. Salah satunya hasilnya adalah menilai asesmen kompetensi minimum (AKM).

Terdapat dua kompetensi mendasar yang diukur AKM. Yakni, literasi membaca dan literasi matematika (numerasi). Nah, untuk tahun 2022, Kota Pendidikan Banjarbaru ternyata cuma mendapat rapor kuning dari pemerintah. Sekadar informasi, penilaian AKM terdiri dari tiga tingkat, paling bagus hijau, kemudian kuning dan paling buruk merah.

“Kuning artinya tidak buruk, tapi pemerintah setempat perlu intervensi,” kata Dedy Sutoyo, Kepala Dinas Pendidikan Banjarbaru, saat dikonfirmasi Senin (26/12). Dedy beralasan, pasca Covid-19 selama dua tahun, membuat pola pembelajaran yang berbeda. Sehingga perlu kembali ditingkatkan. 

Disdik pun telah berbicara dengan Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Komunitas Guru Mata Pelajaran (KGMP) untuk meningkatkan AKM Banjarbaru. 

Dari survei kecil yang dilakukan disdik, ternyata ditemukan, prasyarat untuk memenuhi kompetensi itu belum terpenuhi. “Siswa belum terlalu mahir dengan hitung-hitungan, apalagi berbicara logika numerasi,” ujarnya.

Karena itu, disdik membuat program guna meningkatkan angka numerasi. Yakni, latihan yang bakal diberikan kepada siswa. “Murid nanti diberikan kuis-kuis seputar numerasi seperti perkalian, sewaktu masuk dan pulang sekolah,” paparnya. Pengulangan tersebut dilakukan setiap hari. Sehingga, secara tak langsung, murid pun menjadi hafal. “Ketika anak menyukai numerasi dia akan menjadi kreator peradaban,” harapnya.

Rencananya, program ini mulai dijalankan Januari 2023 mendatang. Dimulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD). Dan berlanjut ke jenjang lebih tinggi. Disdik pun telah menyiapkan modul sebagai acuan guru. 

Untuk mengukur sejauh mana dampak latihan, nantinya akan dilakukan post test oleh panitia yang dibentuk disdik. “Tepatnya setelah satu bulan dijalankan best practice,” ujar Dedy.

Menyadari potensi setiap anak berbeda, Dedy katakan best practice diyakini tak hanya dengan satu model nanti. Hingga, dalam perkembangannya akan disesuaikan berdasarkan kebutuhan dan potensi siswa. Melalui program itu, diharapkan guru di kelas memiliki kepedulian terhadap anak didiknya. Dan keluar dari zona nyaman. “Guru memang menjadi lebih lelah, tapi ini juga untuk melatih mental guru,” sebutnya. (mr-157/yn/bin)

Editor : izak-Indra Zakaria