Masih Ada di Banjarmasin, Gardu Listrik Peninggalan Belanda
izak-Indra Zakaria• 2023-01-20 12:58:21
MASIH KOKOH: Gardu listrik atau transformatorhuisje peninggalan belanda di seberang Menara Pandang, Jalan Pierre Tendean. | FOTO: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN
SIAPA sangka, kotak beton besar berwarna hitam di seberang Menara Pandang, Jalan Pierre Tendean, Banjarmasin Tengah itu merupakan peninggalan Belanda.
Di dalam kotak itu, masih ada kabel listrik yang sudah usang dimakan waktu. Jangankan wisatawan yang lalu lalang, pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar sana juga tak menyadarinya.
“Kami tidak tahu kalau ini ternyata bangunan tua peninggalan Belanda,” kata pedagang pentol goreng di depan kotak hitam tersebut, Siti Sulihah kepada Radar Banjarmasin. Perempuan 42 tahun itu kemudian mendekat. Dan ia baru menyadari, tulisan dalam plakat abu-abu itu sulit dibaca dalam bahasa Indonesia. Bunyinya, “Levensgevaar awas elestrik”. Selain dalam bahasa Belanda, plakat besi itu juga menggunakan aksara Jawa kuno. Bunyinya, “Sing ngemek mati”. Artinya, nekat memegang berarti sudah siap menemui Sang Pencipta.
Bagi yang buta huruf, sebagai peringatan ada lambang petir. Walaupun Sulihah sudah lama curiga. Ada sesuatu dengan kotak hitam itu. Sebab ada saja orang yang mendekati dan memotretnya. “Saya sering melihat orang-orang mengambil fotonya,” ujarnya.
Sejarawan muda Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur menceritakan, gardu itu merupakan saksi masuknya listrik ke Banjarmasin. Yang membangunnya adalah Algemene Nederlandsche Indische Electrisch Maatscappij (ANIEM), perusahaan yang diberi izin membangun dan mengelola sistem kelistrikan di wilayah Hindia Belanda. Namanya transformatorhuisje alias rumah transformator.
Pada tahun 1909, ANIEM mulai membangun pembangkit listrik dan menyalurkannya ke kota-kota besar di Jawa.
Namun, sebelum ANIEM berekspansi ke Kalimantan, di Banjarmasin sudah berdiri perusahaan Bandjermasinsche Electriciteit Maatschappij (BEM). Dirintis tahun 1919 dan resmi berdiri tahun 1920. Jabatan direkturnya dipegang WF Gantvoort. Dari mana pasokan listrik di Banjarmasin? Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP itu memperkirakan berasal dari turbin-turbin sungai berdaya 30 kV (kilovolt).Tegangan listrik itu kemudian masuk ke jaringan saluran tegangan tinggi (sutet) yang berakhir di gardu induk.
“Dari gardu induk inilah, listrik disalurkan ke gardu-gardu transformator yang masih dapat ditemukan di beberapa sudut kota,” jelas Mansyur, Rabu (18/1).Gardu listrik transformator ini mampu menyimpan tegangan 6 kV. Ukurannya bervariasi dari 3×3 meter, 4×3 meter, dan paling besar 5×6 meter.
Dari gardu transformator, listrik bertegangan 110 V (sekarang listrik di Indonesia bertegangan 220 V) disebarkan kepada para pelanggan ANIEM.Di Banjarmasin, sebagian besar gardu transformator itu sudah dirobohkan. Tetapi masih bisa pembaca cari di kawasan Masjid Jami Sungai Jingah dan Siring Pierre Tendean.
Sebelum listrik masuk tahun 1921, pada malam hari warga Banjarmasin mengandalkan penerangan dari lampu teplok.Kaya atau miskin, semuanya memakai lampu teplok. Maka pada zaman itu, semua rumah berbau minyak tanah.Sedangkan di luar, jalan raya atau gang, tetap gelap gulita. Hanya tampak kerlip dari lampu-lampu sepeda yang dikayuh para pedagang.
Kembali pada ANIEM, pelanggan pertamanya mendapat daya 60 watt. Hanya cukup untuk menyalakan satu bohlam. Listriknya juga masih belum stabil.Keadaan mulai membaik setelah listrik tenaga diesel masuk. “Untuk pertama kalinya, lampu minyak mulai digantikan dengan terangnya lampu merkuri,” tutup Mansyur. (zkr/gr/fud)