Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Agak Lain Memang..!! Setelah Penusukan Siswa SMA 7 Banjarmasin, Disdik Ingin Atasi Bullying dengan Pasang Metal Detector

izak-Indra Zakaria • Rabu, 2 Agustus 2023 | 12:32 WIB
Muhammadun, Kadisdikbud Kalsel
Muhammadun, Kadisdikbud Kalsel

Alih-alih fokus ke pencegahan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah, Dinas Pendidikan justru akan memasang metal detector di pintu masuk sekolah. Agak lain memang.

***

BANJARBARU – Usai kasus penusukan pelajar di SMAN 7 Banjarmasin, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel bakal memasang metal detector SMA-SMA negeri di Banua. Kepala Disdikbud Kalsel, Muhammadun mengatakan, pemasangan alat pendeteksi logam itu telah dikoordinasikan dengan pihak sekolah.

“Agar tidak ada lagi siswa yang membawa senjata tajam ke sekolah,” katanya, (1/8). Kabid SMA Disdikbud Kalsel, Dariatno Ngatino menambahkan, sebagai tahap awal, bakal ada 45 sekolah yang dipasangi metal detector. “Masih kami petakan, sekolah mana saja yang akan dipasangi,” ujarnya. 

Pengadaannya diusulkan pada APBD Perubahan 2023 nanti. “Kalau misal anggarannya ada, tidak menutup kemungkinan jumlahnya bisa ditambah,” tambahnya.

Penusukan ini terjadi pada Senin (31/7) pagi, sebelum apel bendera. MR (15) dirawat di Rumah Sakit Ulin lantaran ditusuk pisau oleh temannya sendiri, AR (15). Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, dr Diaudin menyampaikan, setelah dioperasi korban masih harus dirawat di Ulin. Dinkes telah berkoordinasi dengan Disdikbud ihwal perawatan korban. Seluruh biaya perawatan hingga sembuh rencananya akan ditanggung Pemprov Kalsel.

Harus Ada Tes Psikologi

Komisi IV DPRD Kalsel yang membidangi pendidikan, bereaksi atas kasus penikaman siswa Smaven. Ketua Komisi IV, Luthfi Saifuddin meminta kejadian ini menjadi yang terakhir. Dia menuntut evaluasi atas Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Dia mengusulkan ada tes psikologi anak saat seleksi siswa baru. Baginya, ini merupakan upaya deteksi dini masalah kesehatan kejiwaan anak.

“Ini penting untuk mengetahui kepribadian anak didik. Setidaknya dengan tes psikologi dapat mendeteksi kemungkinan adanya siswa yang bermasalah terkait mental,” jelasnya, kemarin.

Selain itu, Disdikbud dan sekolah juga diminta lebih awas. “Disdik tentu harus lebih ketat dalam mengawasi. Jangan sampai kejadian serupa terulang,” tambahnya. 

Apalagi dugaan motif penusukan akibat perundungan. “Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa. Jangan sampai ada lagi perundungan,” tekannya.

Terakhir, karena melibatkan pelajar di bawah umur, politikus Partai Gerindra itu meminta agar kepolisian berhati-hati dalam mengusut kasus ini. “Jangan sampai kejadian ini menghancurkan masa depan si anak. Dia juga tetap berhak mendapat pendidikan yang layak,” pungkas Luthfi. 

Pendidikan Akhlak

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalsel merespons serius kasus penikaman itu. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu, tak seharusnya menjadi tempat kejadian perkara tindak kriminal. “Agar tak terjadi lagi, harus ada aturan moral yang diterapkan dan ditegaskan. Jangan hanya disyaratkan saja,” kata Wakil Ketua MUI Kalsel, Prof Hafiz Ansari.

Diingatkannya, sekolah tak boleh sibuk mencetak prestasi. Sebab pembinaan akhlak lebih penting.

Baginya, ini merupakan pelajaran kepada semua orang tua atau wali murid. Agar tak seratus persen menyerahkan urusan pendidikan ke sekolah.

Ini bukan cuma tanggung jawab para guru. “Ini perlu ditekankan. Tak hanya sekolah, orang tua juga harus ikut terlibat,” pungkas Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Antasari itu. (ris/mof/gr/fud)

 
 
 
 
 
 
Editor : izak-Indra Zakaria