Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Skripsi Dihapus, Mahasiswa pun Senang, ULM Klaim Simpan Gagasan Serupa

izak-Indra Zakaria • 2023-08-31 12:17:20
Photo
Photo

Kegalauan mahasiswa akibat menulis skripsi tampaknya akan menjadi cerita masa lalu. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim mewacanakan penghapusan skripsi untuk tugas akhir kuliah. Wacana itu disambut mahasiswa dengan girang. “Tahu sendiri kan. Butuh modal, belum lagi bolak balik ketemu dosen pembimbing yang kadang perlu waktu,” kata Halim, mahasiwa tingkat akhir Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Dia berharap wacana ini lekas berubah menjadi kenyataan. Sehingga dirinya bisa segera menjadi sarjana. “Skripsi ini menghambat kelulusan. Bahkan tak sedikit yang pasrah dan akhirnya berhenti kuliah,” bebernya. Kebahagiaan serupa juga dirakan Roly, mahasiswa Fakultas Hukum ULM itu mengatakan, dirinya yang kuliah sambil bekerja tak punya waktu untuk menulis skripsi. 

“Padatnya urusan pekerjaan, lagi asyik-asyiknya menikmati pendapatan, membuat skripsi menjadi nomor dua,” ujarnya. Dia pun sangat mengapresiasi wacana Menteri Nadiem, yang dicetuskan agar mahasiswa bisa lulus tepat waktu. “Tahu sendiri, skripsi bisa dibuatkan orang, tetapi perlu duit. Wacana menteri ini sudah tepat!” kata Roly.

Yang menarik, sebelum wacana ini mencuat, ULM rupanya sudah sejak lama menyimpan gagasan serupa. “Sebenarnya wacana ini sudah kami gagas sejak enam bulan terakhir. Kebetulan sekali Kemendikbud menyampaikannya,” ujar Wakil Rektor I Bidang Pendidikan ULM, Iwan Aflanie, kemarin.

Bahkan, ULM sudah menyusun pedoman akademik terbaru. Salah satunya isinya tentang pengganti tugas akhir mahasiswa, selain skripsi. “Drafnya sudah ada, akan dibahas dalam rapat senat Senin 11 September mendatang,” imbuhnya. 

Aflanie menilai efektivitas skripsi sebagai acuan kelulusan mahasiswa patut dipertanyakan. Pasalnya, tak sedikit mahasiswa yang mengalami keterlambatan masa studi akibat proses penyusunan skripsi.

Padahal, masih banyak alternatif lain sebagai tugas akhir kuliah. Seperti laporan magang, penelitian, termasuk pula prestasi mahasiswa di tingkat nasional.

“Kelulusan ini begitu penting bagi kami. Sebagai akselerasi. Namun, seringkali mahasiswa tidak lulus tepat waktu karena terkendala skripsi,” bebernya. 

Aflanie juga tak memungkiri, skripsi memiliki kelemahan. Yakni tak sedikit yang copy paste dan bahkan dibuatkan orang lain yang dibayar. “Makanya kami sangat mendukung wacana ini,” tutupnya.

Alasan Nadiem, karena tidak semua prodi atau jurusan bisa mengukur kompetensi mahasiswa dengan skripsi. Dia mencontohkan prodi vokasi yang lebih cocok dengan tugas akhir seperti proyek. Namun, ia tak memaksa. “Tetapi keputusan ini ada di masing-masing perguruan tinggi,” tukas Nadiem. (mof/gr/fud)

Editor : izak-Indra Zakaria