Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Gelang Simpai, Warisan Berharga dari Masyarakat Dayak Meratus

izak-Indra Zakaria • 2023-10-03 10:04:48
Photo
Photo

Jika mengunjungi pedalaman Meratus di Kalimantan Selatan, Anda tak hanya dapat menjelajahi alamnya yang memukau. Namun, juga berkesempatan merasakan kekayaan budaya Suku Dayak. Contohnya melalui gelang simpai yang khas.

Gelang ini bukan sekadar cendera mata. Melainkan warisan berharga yang memiliki makna mendalam. Dalam pandangan masyarakat Dayak, gelang simpai tidak hanya menjadi simbol persaudaraan. Tapi, juga membawa kekuatan magis yang diyakini dapat menolak sihir, melindungi pemakainya dari roh jahat, dan meningkatkan keberanian pemuda Dayak.

Nanang Kabupaten Banjar, Muhammad Noval menjelaskan bahwa gelang simpai memiliki dimensi spiritual dan fungsional. “Selain menyatukan komunitas, gelang ini juga dipercaya memiliki kemampuan menetralisir racun,” ujarnya.

Proses pembuatan gelang simpai melibatkan keahlian khusus dan ketelitian. Mengingat anyamannya langsung ke tangan pemakai. Setiap gelang disesuaikan dengan pergelangan tangan masing-masing. Proses ini memakan waktu sekitar 15 menit atau lebih, tergantung pada tingkat kesulitan.

Bahan utama anyaman adalah serat pakis, yang dikenal sebagai Alang Am. Hanya dapat ditemukan di lereng pegunungan Meratus. “Gelang simpai awalnya merupakan bagian dari aksesori Mandau, senjata tradisional Suku Dayak,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, gelang simpai bertransformasi menjadi cendera mata seperti gelang atau cincin. “Gelang simpai juga menjadi bukti bagaimana warisan budaya dapat berkembang dan beradaptasi dengan zaman,” paparnya.

Menurutnya, setiap gelang tidak hanya memuat keterampilan perajin. Tapi, sekaligus menceritakan sejarah dan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Penggemar gelang simpai, Muhammad Habibi berbagi pengalamannya ketika menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sekitar pegunungan Meratus tahun 2022 lalu. Tepatnya di Desa Paramasan Bawah, Kabupaten Banjar.

Saat itu, ia mengenakan gelang simpai untuk pertama kalinya. “Itu dianyam langsung oleh warga Dayak setempat,” ujar warga Pelaihari itu.

Selain aksesori, baginya gelang simpai merupakan penghubung dengan komunitas dan kearifan lokal. “Simpai bukan sekadar penciptaan barang seni, juga bentuk penghargaan dan pelestarian warisan budaya,” katanya.

Beberapa pekan lalu, Habibi kembali menganyam simpai di sekitar Lapangan Murjani, Banjarbaru. Menggantikan gelangnya yang sudah rusak.

Perajin simpai yang awalnya hanya ditemui di sekitar pegunungan Meratus, kini dapat ditemukan di berbagai daerah. Termasuk di Banjarmasin atau Banjarbaru. Meskipun demikian, simpai tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Suku Dayak.(dza/gr/dye)

Editor : izak-Indra Zakaria