Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tahulah Pian, Desa Kubur Paling Ditakuti di Balangan

izak-Indra Zakaria • 2023-12-01 09:27:09
TAHULAH PIAN: Desa Kubur di Kecamatan Paringin Selatan, Balangan untuk mengurangi keseramannya sudah berganti nama menjadi Desa Bungin.
TAHULAH PIAN: Desa Kubur di Kecamatan Paringin Selatan, Balangan untuk mengurangi keseramannya sudah berganti nama menjadi Desa Bungin.

KUBUR. Mendengar nama ini, pasti akan terbayang hal-hal yang berhubungan dengan kematian. Entah proses kematian, sampai urusan penguburannya.

Tak sedikit yang menghubungkannya dengan hal mistis. Wajar apabila mendengar kata kubur saja bisa membuat bulu kuduk merinding. Bahkan di beberapa tempat selalu disertai dengan cerita-cerita menyeramkan yang sering terjadi.

Di Kalsel, tepatnya di Kecamatan Paringin Selatan, dulunya ada sebuah desa yang bernama Kubur. Sebelum pemekaran wilayah Kabupaten Balangan dari Kabupaten Hulu Sungai Utara tahun 2003, Desa Kubur ini sudah berganti nama dengan Desa Bungin.

Mengapa namanya diganti? Satu di antaranya karena nama kubur terkesan mistis dan membuat pendengarnya takut. Dosen Sejarah FKIP ULM, Mansyur mengatakan dalam kurun waktu tahun 1970-1990, di kawasan tersebut terdapat perkebunan karet. Nah, di lahan karet di Desa Kubur tersebut dianggap keramat. Terlebih pada era itu, Paringin dikenal sebagai wilayah yang penduduknya suka memberi wisa (racun). Pendatang dari luar tidak mau singgah lama, karena takut terkena wisa.

Sumber racun tersebut banyak pihak menyebut dari Desa Kubur yang saat itu wilayahnya masih tertutup perkebunan karet. “Racun itu dipercayai sebagai bagian ritual pesugihan penduduk Desa Kubur untuk cepat kaya,” terang Mansyur. 

Tak sekali dua, biasanya orang yang baru datang ke Desa Kubur, apabila makan dan minum akan langsung sakit dengan ciri-ciri muntah darah dan meninggal dunia. Desa itupun disebut sebagai Desa Kubur. “Kejadian ini membuat beberapa pemuda dan tokoh masyarakat yang didukung oleh Bupati Hulu Sungai Utara (saat itu dijabat Suhailin, red) menggagas dilaksanakannya ritual untuk mengganti nama desa, atau tasmiyah,” paparnya. 

Setelah ritual tasmiyah itu dilaksanakan, Desa Kubur berubah nama menjadi Desa Bungin. Nama Bungin diambil dari sungai yang melintasi desa bernama Sungai Bungin. “Pascapemberian nama baru tersebut, para tokoh masyarakat dan tokoh agama sering melakukan penyuluhan tentang haramnya memelihara jimat dan racun dalam pandangan Agama Islam,” sebut Ketua Lembaga Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan itu.

Cerita Desa Kubur memang bukan isapan jempol. Nama Desa Kubur ini tidak hanya bersumber dari cerita lisan warga desa. “Dari sumber masa Hindia Belanda misalnya, dalam peta berjudul “Paringin” koleksi Opgenomen Door Den Topografischen Dienst in 1922-1923 yang diterbitkan tahun 1924 di Weltevreden (Batavia), Reproductiebedrijf Topografische Dienst, terdapat nama Desa Kubur,” paparnya.

Saat itu ditulis dengan Koeboer, yang secara administratif berada dalam wilayah District Balangan, Afdeeling Hoeloe Soengai, Residensi Zuid en oost Afdeeling van Borneo. “Wilayah Koeboer termasuk Onderdistrict yang berbatasan dengan Batoepiring Gebergte (Gunung Batupiring) dan wilayah Paringin, ibu kota District Balangan. Selain itu, Onderdistrict Koeboer berdekatan dengan wilayah Kaboeboei dan Lajap,” sebutnya.

Berdasarkan keterangan dalam peta tersebut, wilayah Onderdistrict Koeboer merupakan wilayah perkampungan yang dihuni penduduk (bertanda hijau), berbatasan dengan wilayah sawah (bertanda biru tua dengan garis kotak-kotak), dan di sekitarnya terdapat perkebunan kelapa dan karet.

Desa Kubur sudah dilalui dengan “jalan kuda” atau jalan setapak (paardenpad), dan lokasinya tidak jauh dari Sungai Balangan.

Berdasarkan peta tersebut dapat disimpulkan bahwa nama Desa Kubur memang sesuai cerita lisan masyarakat benar-benar ada. Terdapat perkebunan karet rakyat di sekitar Desa Kubur. Desa Kubur muncul itu seiring adanya perkebunan-perkebunan karet sebagaimana wilayah Balangan lainnya sejak tahun 1930-an yang saat itu masih termasuk onderafdeeling Amuntai. Sejak tahun 2003, Desa Bungin menjadi wilayah Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan. Dalam perkembangannya hingga tahun 2003, Desa Bungin tetap menjadi desa yang sepi ketimbang desa-desa lainnya. (*)

 
Editor : izak-Indra Zakaria