Bila sebelumnya Radar Banjarmasin mengulas tentang Aruh Bawanang atau Aruh Ganal, kali ini Tahulah Pian mengangkat tradisi adat Aruh Basambu. Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), persisnya di Desa Kiyu, Kecamatan Batang Alai Timur, Basambu digelar ketika padi tampak tumbuh dan menghijau.
Melalui Basambu, penduduk Desa Kiyu yang mayoritas adalah Suku Dayak Meratus mengharap agar padinya tidak diserang oleh hama penyakit. Hingga kemudian menghasilkan panen yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. "Ritual ini juga ditujukan untuk keselamatan penduduk," ujar salah satu tokoh di Desa Kiyu, Maribut. Sederhananya, Basambu juga merupakan salah satu ritual tolak bala.
Radar Banjarmasin mengunjungi Aruh Basambu di desa tersebut pada akhir Februari 2020 lalu. Dari Banjarmasin menuju Kabupaten HST terpaut jarak sejauh 142 kilometer.
Setibanya di Barabai yang menjadi jantung kabupaten tersebut, untuk menuju Desa Kiyu, Anda harus menempuh perjalanan sejauh 46 kilometer lagi. Berbeda dengan Aruh Bawanang yang umumnya digelar berhari-hari, Basambu hanya digelar satu hari. Pelaksanaannya berlangsung di dua tempat.
Pagi atau siang hari, Basambu digelar di saung yang berdiri di tengah ladang milik masing-masing warga. Di saung, doa berisi harapan dilantunkan oleh Balian alias pemuka adat.
Dalam aruh, Balian juga bertugas menghubungkan dunia bawah dengan dunia atas. Termasuk, urusan dengan roh manusia yang telah meninggal. Seusai berdoa, ditutup dengan acara makan bersama.
Kemudian ketika malam hari, Basambu dipusatkan di balai adat. Di sini, penduduk bahu membahu sebelumnya menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari menyediakan kayu bakar, memasak nasi, sayur, ikan, hingga membuat kue di wajan-wajan berukuran besar.
Di aula balai adat, juga digelar acara makan bersama. Seusai itu, piring-piring yang semula berisi hidangan makanan pun disingkirkan. Berganti dengan sesajen, serta pernak pernik ritual. Ada sejumlah dedaunan, buntelan kain, kue dodol, bakul berisi kelapa, gula, beras, ketan, dan lain-lain. Paling mencolok adalah kue yang dibuat mengikuti bentuk hewan-hewan kecil. Ada yang berbentuk lipan, semut, belalang dan kutu. Semuanya itu, perlambang hewan-hewan kerap ditemui atau mengganggu warga yang menggarap ladang.
Ketika malam kian larut, Balian pun beraksi. Komat-kamit mengucap doa. Balian juga bergerak mengelilingi sesaji, sembari mengentakkan kakinya ke lantai. Kemudian, mengibaskan dedaunan yang dipegang dengan tangan kanannya ke beberapa penjuru bangunan balai adat. Sementara tangan kirinya, bergerak membunyikan gelang hiang yang terselip di jari-jari. Beriringan dengan tabuhan gendang atau kalimpat yang ditabuh warga.
Saat itulah, seisi balai menjadi riuh dengan entakan kaki. Tua, muda, hingga anak-anak memutari sesaji di tengah-tengah balai, mengikuti Balian. Inilah puncak Aruh Basambu.
Semua ritual itu dilakukan semalam suntuk. Baru berhenti ketika terbit fajar. "Seusai ritual, maka selama tiga hari ke depannya, tidak seorang pengunjung pun yang diizinkan untuk mendaki Gunung Halau Halau (Gunung Besar, Red)," tekan Maribut.
Ia mengungkapkan, sesaji yang semula diletakkan dan didoakan di balai adat akan dibawa ke kawasan hutan di dataran tertinggi Kalsel itu. "Bagi yang melanggar atau nekat melakukan pendakian, akan didenda adat," ucapnya.
Denda adat bentuknya beragam. Mulai dari meninggalkan pakaian yang dikenakan, hingga harus meninggalkan senjata tajam kerap dibawa apabila hendak mendaki gunung. "Sifatnya hanya sementara saja. Sesudah tiga hari, barang-barang itu akan dikembalikan," jelasnya.
Maribut menyatakan Basambu merupakan hajat orang banyak. Ia hanya ingin ritual yang dilaksanakan berjalan dengan khidmat dan tidak ada gangguan. "Yang menikmati hasilnya nanti bukan hanya kami (penduduk, red). Tapi, juga pengunjung yang datang ke desa ini saat gelaran Aruh Bawanang," pungkasnya. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria