Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanah Bumbu telah memetakan sejumlah wilayah rawan banjir di Bumi Bersujud. Apalagi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan puncak musim hujan di Kalsel terjadi dari Desember 2023 hingga Februari 2024.
Sekretaris BPBD Tanah Bumbu, Dwi Kesuma Putra mengatakan banjir di Tanah Bumbu dipengaruhi curah hujan di wilayah pegunungan. "Dari hilir, pengaruhnya tidak begitu besar," bandingnya, kemarin (26/12).
Ia mengatakan bahwa Tanah Bumbu memiliki tiga Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS adalah daerah yang dikelilingi oleh punggung gunung. Air hujan yang jatuh di daerah tersebut akan ditampung oleh punggung gunung dan dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama. “Ada DAS Batulicin, DAS Kusan, dan DAS Satui. Ketiga DAS tersebut melintasi sejumlah wilayah, sehingga membuat suatu daerah berpotensi banjir,” terangnya.
Disebutkannya, pada DAS Batulicin, terdapat Desa Sela Selilau dan Desa Karang Bintang di Kecamatan Karang Bintang. Di hilir, ada Desa Maju Makmur dan Maju Bersama di Kecamatan Batulicin.
Pada DAS Kusan, terdapat Desa Mangkalapi, Desa Tibarau Panjang, dan Desa Tapus di Kecamatan Teluk Kepayang. Sedangkan di Kecamatan Kusan Hulu, hampir semua desa yang dilintasi DAS Kusan berpotensi banjir. "Mulai dari Desa Lasung, Anjir Baru, Rukam, Pacakan, hingga Bakarangan. Hampir semuanya berpotensi banjir," ungkapnya.
Beralih ke Kecamatan Kusan Tengah, masih dalam wilayah DAS Kusan, terdapat Salimuran, Serdangan, Saring Sungai Binjai, Karya Bakti, dan Satiung. "Desa-desa di Kecamatan Kusan Tengah ini juga berpotensi terdampak banjir," jelasnya. Dwi menyebutkan bahwa yang terdampak paling signifikan berada di DAS Satui. Beberapa desa dilintasi DAS Satui, seperti di Jombang, Sinar Bulan, Sungai Danau, Satui Timur, dan Satui Barat di Kecamatan Satui.
Selanjutnya, terdapat anak sungai dari DAS Satui, yaitu Sungai Nibung di Kecamatan Angsana. Dari sungai itu, dua desa yang terdampak adalah Karang Indah dan Angsana. "Hampir semua desa yang saya sebutkan berpotensi banjir jika intensitas hujan tinggi. Meskipun, sekali lagi, tetap dipengaruhi hujan di bagian hulu,” terangnya.
BPBD juga telah menyiapkan logistik jika banjir atau bencana lainnya melumpuhkan ekonomi warga. Namun, ia mengatakan persiapan tersebut hanya cukup untuk dua hari. "Jika lebih, BPBD akan berkoordinasi dengan dinas sosial untuk membuka dapur umum," terangnya.
Dwi menambahkan bahwa BPBD terus memantau potensi banjir dan bencana lain. Peralatan evakuasi juga sudah disiapkan dan dipantau selama 24 jam oleh Tim Rekasi Cepat (TRC) BPBD. "Jadi jika ada laporan, kami siap menuju lokasi," tegasnya. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria