Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ini Dia Asal-Usul Perkampungan Orang Cina di Tanah Laut

izak-Indra Zakaria • 2024-01-08 13:15:01
TERJAGA: Sosok orang Cina yang pertama kali datang dan mendiami Kampong Parit di Kota Pelaihari. (Foto : Istimewa)
TERJAGA: Sosok orang Cina yang pertama kali datang dan mendiami Kampong Parit di Kota Pelaihari. (Foto : Istimewa)

Kota Pelaihari sebagai ibu kota Kabupaten Tanah Laut (Tala) memiliki sebuah perkampungan yang sangat tua. Letaknya di sebelah timur Kota Pelaihari, berjarak 500 meter dari Kompleks Pasar Tuntung Pandang Pelaihari, atau berbatasan dengan Kelurahan Sarang Halang (Kampung Sarang Halang). Kampung itu adalah Kampong Parit.

Menurut cerita orang tua dahulu, nama Kampong Parit diambil dari kata parit atau saluran. Riwayatnya pada zaman dahulu kampung ini adalah sebuah tambang emas yang menggunakan parit atau saluran sebagai penampungan pasir emas. Orang-orang yang mendiami Kampong Parit ini adalah para pekerja tambang emas dari Cina.

Ada dua versi pola kedatangan pekerja tambang emas dari Cina ke Kampong Parit. Versi pertama, menyebutkan bahwa mereka didatangkan Alexander Hare, Komisioner Residen Inggris untuk Kalimantan sekitar tahun 1815 yang berkedudukan di Maluka Baulin dalam rangka penggalian potensi emas yang ada di Pelaihari (Kampong Parit). Pada tahun 1815-an itu, Pelaihari masih dalam kekuasaan Inggris, mencakup wilayah Maluka, Liang Anggang, Kurau, Pulau Lampai dan Pulau Sari.

Versi kedua, menyebutkan bahwa mereka datang atas permintaan dari Kerajaan Banjar pada masa Puteri Junjung Buih dan Patihnya Lambung Mangkurat pada abad ke-13. Tujuannya untuk membantu kerajaan Banjar sebagai tenaga ahli dalam penggalian emas di Pelaihari.

Mereka datang melalui Sungai Tabanio. Jumlahnya sebelas orang. Sebelas orang inilah yang pertama kali tinggal dan menetap di Kampong Parit untuk melakukan penambangan emas. Mereka ini menikah dan berkeluarga dan memiliki keturunan hingga sekarang. Dalam catatan sejarah pada tahun 1817 tercatat, orang Cina Parit yang tinggal di Distrik Pleihari, Afdeeling Martapoera dipimpin oleh Gho Hiap Seng. Ia bertanggung jawab kepada Pemerintahan Hindia Belanda.

Warga Pelaihari, Ismail Fahmi menyebut etnis Cina yang didatangkan ke Pelaihari adalah etnis Cina Hakka. Salah satu etnis yang mempunyai karakter pekerja keras, mandiri, dan mempunyai kemampuan bertani, beternak, berkebun dan membuat tembikar, serta ahli dalam menambang emas. Namun kurang memiliki kemampuan dalam berdagang.

"Kedatangan orang Cina ke Kalimantan Selatan sebenarnya sudah lama. Jauh sebelum kedatangan mereka di Kampong Parit Pelaihari. Awalnya mereka diundang oleh Empu Jatmika, pendiri Kerajaan Negara Dipa (1387-1495). Saat itu, kerajaan memerlukan pematung logam yang hanya dikuasai oleh perajin asal Tiongkok. Selanjutnya, makin berkembang, dengan kedatangan para pedagang Cina di masa Sultan Hidayatullah I (1570-1595)," ungkapnya.

Penamaan orang Cina Parit (Chinese Parit) dipakai secara resmi sebagai salah satu kelompok etnik yang mendiami Kalsel. Karena sejak semula kedatangannya ke daerah ini, orang Tionghoa disebut sebagai "Urang Cina" dalam bahasa Banjar.

Ismail Fahmi juga mengatakan sekarang Kampong Parit telah menjadi sebuah perkampungan yang dihuni oleh mayoritas etnis Cina. "Mereka yang berdiam di sana diperkirakan keturunan keempat atau kelima dari nenek moyangnya yang pertama kali datang ke Pelaihari, dan tinggal di Kampong Parit," sebutnya. (*)

 
Editor : izak-Indra Zakaria