Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Banjarmasin Kembali Diserbu Pampangan, Pasukan Turbo Kewalahan, Bagaimana Solusinya?

Wahyu Ramadhan • 2024-02-02 14:30:00
PAMPANGAN: Eceng gondok bercampur sampah memenuhi Sungai Martapura. Foto diambil di atas Jembatan Pasar Lama.  (FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN)
PAMPANGAN: Eceng gondok bercampur sampah memenuhi Sungai Martapura. Foto diambil di atas Jembatan Pasar Lama.  (FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN)

 Pampangan kembali menyerbu Sungai Martapura. Eceng gondok, batang kayu, dan sampah itu menumpuk di kolong jembatan. Apesnya kapal sapu-sapu dan weed harvester justru tidak bisa digunakan. "Kapal sapu-sapu sedang dalam perawatan," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Suri Sudarmadiyah, Kamis (1/2).

Sedangkan weed harvester yang canggih itu ternyata hanya sanggup mengatasi gulma. Tak bisa dipakai menghadapi batang pohon, bambu, dan sampah rumah tangga.

"Selain itu, weed harvester hanya berfungsi maksimal saat peralihan arus pasang ke surut," terang Suri. "Peralihan itu memberi jeda sekitar 1,5 jam. Saat arus sungai tidak begitu deras, baru kapal itu bisa beroperasi maksimal," tambahnya. Alhasil, pampangan hanya bisa ditangani secara manual dengan menurunkan pasukan turbo.

Upaya lain, memaksimalkan perangkap sampah yang dipasang di Pusat Daur Ulang (PDU) Sungai Gampa di kawasan Banua Anyar. Suri menekankan, pampangan harus ditangani demi kualitas air baku. "Karena pampangan yang menumpuk dikhawatirkan membawa endapan," ungkapnya.

Pampangan itu kerap muncul di kolong Jembatan Pasar Lama dan Jembatan Pangeran Antasari. Dengan luasan mencapai 1.200 meter persegi. "Dan ketebalan rata-rata satu meter," sebutnya.

"Bila dalam sepekan terus muncul, berapa banyak yang harus kami angkat," keluhnya. Sungai Martapura di Banjarmasin adalah bagian hilir. Sementara pampangan itu merupakan kiriman dari daerah hulu. Maka, tidak bisa hanya ditangani Pemko Banjarmasin sendirian. Suri mengaku terus berkoordinasi dengan Pemkab Banjar untuk mencari solusinya. 

"Kita harus berkolaborasi untuk menyelesaikan persoalan pampangan ini," tandasnya.Sebelumnya, masalah pampangan di Sungai Martapura juga disoroti Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, I Putu Eddy Purna Wijaya. 

Menurutnya, penanganan yang paling efektif adalah mencari asal sampah, lalu menangani sumber masalahnya.

"Ketika sampai di sini, semestinya tinggal penanganan terakhir. Hanya menangani sampah kecil. Dan saat inilah weed harvester bisa digunakan," ujarnya, belum lama tadi.Intinya, tegas Eddy, selama sumber masalahnya tidak diatasi, maka Banjarmasin akan kewalahan menghadapi masalah musiman ini.

 

Pasukan Turbo Kewalahan

Rabu (31/1) malam, sebuah kelotok nekat menerobos pampangan di kolong Jembatan 9 November, Banjarmasin Tengah.

Motoris kelotok itu tampak kesulitan. Warga yang melihat, Helman mengatakan pampangan telah menjadi pemandangan biasa."Kasihan mereka tidak bisa melintas," ujarnya.Terpisah, Kabid Sungai PUPR Banjarmasin, Hizbul Wathony mengatakan, pasukan turbo telah diturunkan ke lokasi.

"Lima grup diturunkan untuk membersihkan pampangan di kawasan Jembatan Pasar Lama dan Jembatan Pangeran Antasari," ujarnya. Namun, jumlah personelnya tidak sebanding dengan sampah yang harus diangkut. Wathony mengakui pihaknya kewalahan.

"Tidak sepenuhnya bisa diangkat. Akhirnya hanya diurai, minimal tidak menutup seluruh alur sungai, supaya perahu masih bisa lewat," jelasnya. Dia memprediksi pekerjaan ini bakal berat dan memakan waktu lama. "Seminggu baru bisa selesai, hanya untuk membuka alurnya saja," ujarnya.

Dia menduga pampangan ini memasuki Sungai Martapura akibat luapan Riam Kiwa.
"Serangan pampangan biasanya muncul pada Oktober sampai Maret," tutupnya. Anggota Komisi III DPRD Banjarmasin, Hendra mengatakan, PUPR harus menjadikan masalah ini sebagai prioritas. Dan dewan menjamin akan mendukung usulan anggarannya. 

"Sungai seharusnya menjadi prioritas, ini bukan proyek yang tidak jelas kegunaannya," kata politikus PKS itu.Dia merasa kasihan dengan masyarakat yang menggantungkan ekonominya pada sungai. "Kalau bisa jangan terlalu lama, kasihan masyarakat, karena ini jalur transportasi penting," kata Hendra.

Dewan menuntut pemko menyusun solusi jangka pendek dan jangka menengah. Pemko jangan terpaku pada rencana reaktif, hanya turun membersihkan ketika pampangan muncul.  (*) 

Editor : Indra Zakaria
#kalsel