Makan di atas perahu di Pasar Terapung sambil merasakan goncangan ombak kecil di sungai adalah sensasi yang menyenangkan. Sampai saat ini, Pasar Terapung masih dijaga baik oleh Pemerintah Kota Banjarmasin.
Pasar Terapung adalah warisan budaya non benda yang bisa menjadi aset berharga karena memiliki keunikan yang tidak dapat ditemukan di kota lain. Banyak wisatawan yang berkunjung, untuk menikmati sensasi makan di atas perahu.
Berbicara mengenai sejarah Pasar Terapung Banjarmasin, dulunya terdapat tiga tempat yaitu di Lokbaintan, Kuin Utara, dan Siring Banjarmasin. Saat ini Pasar Terapung hanya beroperasi di Lokbaintan, Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar dan di Siring Banjarmasin. Menurut Julia, warga asli Kuin Utara, kondisi Pasar Terapung Kuin Utara saat ini sudah tidak beroperasi lagi.
Pengunjung lebih banyak yang mengunjungi Pasar Terapung di daerah Lokbaintan dan Siring Banjarmasin. Sampiah, warga asli Lokbaintan mengatakan, Pasar Terapung di Lokbaintan menjual berbagai macam makanan, seperti buah-buahan, sayur, ikan, kue, dan masih banyak lainnya.
“Pasar Terapung Lokbaintan beroperasi pada pukul 6 pagi sampai jam 8. Saat bulan Ramadhan, Pasar Terapung Lokbaintan tidak terlalu ramai, tidak seperti hari biasanya,” ujar Sampiah seraya menambahkan Pasar Terapung Lokbaintan sudah ada sejak tahun 1983.
Sementara Syamsiah, salah satu pedagang yang berjualan selama 10 tahun di Pasar Terapung Siring Banjarmasin menceritakan, dirinya melanjutkan usaha orang tuanya di Pasar Terapung Lokbaintan sejak tahun 2013, kemudian pindah ke Pasar Terapung Siring pada tahun 2014.
Rata-rata pedagang Pasar Terapung dari zaman dulu banyak menjual dagangan buah-buahan dan sayur-sayuran.
Hingga saat ini, beberapa pedagang berinovasi dengan menjual jajanan kue basah berbahan dasar beras dan tepung. Ada juga makanan kuah kaldu dan kue khas Banjar seperti apam barahim, apam kentang, kue lapis dan makanan yang dijual di Pasar Terapung yang banyak dibeli pengujung.
Cara ini dapat menarik rasa penasaran wisatawan yang berkunjung ke Pasar Terapung, karena bukan hanya menjual buah dan makanan, tetapi menjual makanan khas Banjarmasin.
Pedagang Pasar Terapung kebanyakan perempuan yang menggunakan topi tradisional khas Banjar yang diberi nama tanggui. Tanggui adalah topi berbentuk bundar yang terbuat dari daun nipah berfungsi untuk melindungi dari panas dan hujan.
Adanya Pasar Terapung ini disebabkan oleh wilayah geografis di Banjarmasin yang banyak memiliki jalur sungai yang dikenal dengan sebutan seribu sungai. Tempat yang berada di bantaran Sungai Martapura dan Sungai Barito menjadi posisi yang strategis dalam menjajakan dagangan.
Seiring dengan perkembangan zaman, Pasar Terapung mulai terkikis keindahannya seperti pedagang yang berkurang jumlahnya setiap tahun.
Faktor penyebabnya seperti sarana transportasi yang semakin maju, sehingga orang memilih ke pasar yang dekat rumah tanpa harus ke bantaran sungai. Selain itu, tidak adanya tempat tetap menaruh dagangan, sehingga beberapa pedagang memilih pasar daratan seperti di jalan. (Bambang Hariyanto/tof)