Hauk adalah gunung setinggi 1.325 meter dari permukaan laut (MDPL). Terletak di Desa Ajung, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan. Dari Ajung menuju puncak, butuh lima hingga enam jam perjalanan. Jalur pendakian ditata sedemikian rupa untuk kepentingan pariwisata.
Disediakan sembilan pos persinggahan atau basecamp, ditambah bantuan papan penanda. Dari pos 1 yang dinamai Binjai Sama Batang, hingga pos terakhir Canting Paring II.
Namun, tim ekspedisi menempuh jalur berbeda. Perjalanan dimulai dari desa tetangga, Kambiayin. Disebut bertetangga pun, jarak antara Ajung dan Kambiayin sekitar satu jam perjalanan.
Dari Desa Kambiayin ke Gunung Hauk tak ada pos persinggahan dan papan penanda. Jadi perjalanan ini membuka rute baru.Menawarkan sensasi menjelajah hutan hujan tropis yang sebenarnya. Lebih menantang. Lebih banyak tanjakan.
Ekspedisi berlangsung enam hari, 22-27 Maret 2024. Dihitung pulang pergi dari markas Walhi di Banjarbaru. Dari ibu kota provinsi, rombongan ekspedisi berangkat menuju Paringin. Menempuh jarak 176 kilometer.
Kami tiba di kediaman Kepala Desa Kambiayin, Anang Suriani pada pukul 17.40 Wita. Ia menyambut kami dengan hangat. "Semua yang dibutuhkan sudah siap," ujarnya tersenyum.
Setelah berkenalan dengan Suriani, saya melipir ke Sungai Kambiayian yang berarus deras untuk membersihkan diri. Sungai selebar 10 meter ini jeram dan bercabang. Airnya dingin dan menyegarkan. Bermuara di Sungai Pitap.
Desa Kambiayin terdiri dari dua rukun tetangga, RT 1 dan RT 2. Dihuni 144 keluarga Suku Dayak Pitap. Pertanian menjadi tumpuan ekonomi masyarakat.
Menjaga Adab
Tetangga Suriani, Risa dan Sapnah memang pandai memasak. Menu makan malam pada Jumat (22/3) itu lezat sekali. Ada nasi putih, mandai (kulit cempedak), dan terong goreng. Lauknya, ikan puyau dan telur. Dicocol sambal, siapa yang tak berselera?
Usai makan malam, kami mulai mengepak barang. Ransel camping diisi logistik, kotak P3K, dan pakaian cadangan.
Kami dibantu lima warga Dayak Pitap. Mereka adalah Hasan, Rabadi, Ayun, Yuba dan Dinas. Kelimanya pramuantar alias porter yang bertugas membawa barang.
Dari kelima porter itu, hanya Yuba yang berasal dari RT 2. Selebihnya warga RT 1.
Sambil mengepak barang, kami menyimak penjelasan Hasan. Ia yang paling senior di antara para porter. Hasan menekankan, tim ekspedisi harus menjaga sikap ketika berada di dalam hutan dan saat mendaki.
Bagi masyarakat Dayak Pitap, hutan dan gunung adalah tempat keramat. Termasuk Gunung Hauk. Mereka punya aturan adat.
Di hutan dan gunung, siapapun tidak boleh melakukan hal-hal tercela. Baik yang dilarang agama atau kepercayaan setempat. "Orang-orang yang tersesat di hutan atau pegunungan itu karena mereka meremehkan atau melecehkan adat," ujarnya.
Selain karena meremehkan tempat keramat, bisa juga karena memang teledor dan kurang persiapan. Tentu kami tidak ingin mengalami hal serupa. Berbicara tentang mitos Gunung Hauk, saya pernah dengar, konon setiap orang yang mau mendaki akan disambut hujan. Sekalipun di tengah musim kemarau.
Menjawab itu, Kades Kambiayin, Suriani memaknai hujan di awal perjalanan sebagai pembersihan diri atau teguran kepada pendaki. "Kalau yang terjadi adalah hujan berpetir atau dalam bahasa kami disebut hujan ribut, artinya sebuah teguran," terangnya.
Suriani mengingat satu cerita. Hanya karena tertawa terbahak-bahak, tenda pendaki yang berada tak jauh dari puncak Hauk hancur disapu angin.
"Peristiwa itu terjadi sudah lama sekali. Kami yang di puncak justru tidak merasakan apa-apa. Kami baru tahu ketika dalam perjalanan pulang," tuturnya.
"Tapi tenang saja. Asalkan menjaga sikap, semuanya akan baik-baik saja. Di manapun kita berada," sambungnya. Berbicara tentang rute, Suriani memberikan sedikit bocoran yang membuat tim penasaran. Bahwa yang akan kami lalui boleh dikata masih hutan perawan. "Bila ingin mencari sensasi petualangan, lewat sini (Kambiayin, red). Bila lewat Ajung buat bersantai," ujarnya.
"Seingat saya, hanya ada lima pendakian yang pernah naik lewat Kambiayin," tambah ayah dua anak itu.
Bila beruntung, menurutnya, kami bisa melihat langsung beruang madu, kijang, burung bainah dan enggang. "Sarang lebah madu yang biasa dipanen warga juga banyak," ujarnya.
"Nanti di rute yang kalian lewati juga ada air terjun. Berbeda bila berangkat dari Ajung, tidak ada air terjunnya," tutupnya, mengingat malam kian larut dan harus beristirahat.
Sudah ditentukan, tim ekspedisi berisi 13 orang. Masing-masing kebagian tugas. Ekspedisi dikomando anggota Walhi Kalsel, Raden Rafiq Sepdian Fadel Wibisono. Lima warga lokal, menjadi porter dan penunjuk jalan. Ketuanya adalah Rabadi.
Pius Rinaldi Indra Gampung, Jhoneris Harruna Agistha, dan Suharjo merupakan anggota Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Graminea. Ketiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat itu akan mendata flora dan fauna yang ditemukan di sepanjang pendakian.
Sedangkan empat orang lainnya, termasuk saya, adalah pendaki amatir yang membantu dokumentasi.(bersambung)