Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ekspedisi Gunung Hauk Bersama Walhi (Bagian 8), Lelah Dibayar Lunas

Wahyu Ramadhan • 2024-04-08 16:10:00
LUAS: Potret hutan hujan tropis yang rimbun dari puncak Gunung Hauk 1.325 MDPL. (FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN)
LUAS: Potret hutan hujan tropis yang rimbun dari puncak Gunung Hauk 1.325 MDPL. (FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN)

 

Tebing batu itu menjadi pemisah rombongan ekspedisi dari puncak Gunung Hauk. Tidak ada pilihan, kami harus memanjat dan melewatinya.

****
"MANDAKI (mendaki) di sia leh (di sinikah), Nas," kata Rabadi, porter kami. "Iya ai," sahut Dinas. Rabadi naik lebih dulu. Tangannya meraih akar tanaman liar dan batu. Kakinya mencari pijakan. Beberapa saat Rabadi tak terlihat. Sepertinya ia sudah tiba di atas. 

Selanjutnya giliran Dinas. Ia menaiki tebing dengan lanjung masih menempel di pundak.
Terus terang, ketakutan mulai menghinggapi. Tak terbayang bila gagal menaiki tebing itu. Saya mendongak ke atas. Sekali lagi menatap dinding tebing. Nyali seketika ciut. 

Mencoba mencari rute lain, siapa tahu ada, tapi nihil. Di kanan dan kiri hanya ada jurang.
Saya pasrah. Di bawah tebing, saya mulai berdoa. Kamera yang semula tergantung di leher, saya amankan ke dalam ransel. Tak lama, Dinas muncul menuruni tebing dengan wajah semringah. "Sini. Ranselnya biar saya bawakan," ujarnya seraya mengulurkan tangan.

Tanpa berpikir panjang, saya menyerahkan ransel berat itu. Dinas mengajak saya, menuntun naik. Saya harus memberanikan diri! "Pegang di sini. Ya betul. Injak batu itu," ujarnya mengarahkan. Waktu terasa berjalan lambat. Akhirnya, saya bergabung dengan Rabadi dan Dinas. Sungguh melegakan.

Di atas tebing itu ada tanah datar yang luas. Muat untuk empat sampai lima tenda.  Cuaca yang semula mendung, berganti panas yang terik. Pemandangannya begitu menakjubkan. Seluas mata memandang hanya ada langit biru dan hutan hijau. Tebing itu adalah puncak Gunung Hauk. Gunung setinggi 1.325 meter dari permukaan laut (MDPL) di Kabupaten Balangan.

Senin (25/3) pukul 11.25 Wita, saya tiba di puncak. Alhamdulillah. Sesudah kami bertiga, anggota ekspedisi lainnya datang menyusul. Semuanya tiba dengan wajah cerah ceria. "Mantap!" ujar ketua tim ekspedisi, Raden Rafiq Sepdian Fadel Wibisono sambil mengacungkan dua jempol.

Terakhir tiba adalah Pius Renaldi Indra Gampung. Pemuda dengan postur badan paling besar di antara kami. Ia tampak sangat bahagia. Di puncak, porter senior kami, Hasan mendatangi sebuah tempat yang dipagari baja ringan, kayu ulin, dan kain kuning lusuh.

Luasnya tak seberapa. Bentuknya persegi empat. Di dalamnya terdapat tunas kelapa dan tumbuhan serai. Di situ juga ada mangkuk, piring, dan gelas. "Datuk, kami sampai di sini datuk," kata Hasan takzim. Mulutnya tampak komat-kamit. 

Dijelaskannya, itu adalah area sakral. Tempat para Balian (penghulu adat Dayak) berdoa dan meletakkan sesajen usai menggelar aruh di balai adat.

Sesajen yang diantar meliputi hasil alam sampai makanan olahan seperti kue. "Kawasan ini sengaja dipagari agar tidak ada yang mengusik," terangnya.

 

Di puncak Hauk, lelah berhari-hari di perjalanan seketika terbayarkan. Kami banyak berfoto dan mengambil video untuk dokumentasi.

Hasan mengajak saya melipir ke sisi tebing, menunjukkan spot foto terbaik, "Bagaimana, indah bukan," tanyanya.Memang sangat indah. Tapi, agak ngeri berdiri lama-lama di sisi tebing. Usai mengambil beberapa foto, saya memilih mundur.

Sejam kemudian, rombongan memutuskan turun. Rutenya berbeda dengan rute keberangkatan. Kami memakai rute Batu Ajung. Menuju wisata sungai di Desa Ajung. Coba tebak, berapa lama? Kami tiba di bawah sekitar pukul 16.43 Wita. Tak sampai setengah hari perjalanan.

Meski tidak seberat rute kemarin, tetap saja melelahkan. Kaki lebih cepat penat, karena terus menyusuri jalan menurun. Panoramanya berbeda dengan pendakian kemarin. Kami melewati Hutan Kayu Habang. Sesuai namanya, hutan ini hanya diisi pepohonan berwarna merah. Ada pula batu besar yang bentuknya seperti gorila raksasa. Bentuknya benar-benar mirip seperti kingkong. Di rute ini juga tak perlu capek-capek menghunus parang untuk menyibak tanaman liar. 

Tak perlu takut tersesat, sebab jalurnya sudah ada dan pasti. Di situ juga banyak penanda jalan. Akhirnya, kami pun tiba di Batu Ajung dengan sungainya yang besar dan jeram.

Mirip dengan Sungai Amandit di kawasan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Bedanya, di sungai ini tak ada lanting atau rakit bambu.  Saya melihat Pius dan Ayun asyik di pinggir sungai, menumbuk akar langir. Ketika ditumbuk, akar itu mengeluarkan getah berwarna putih. Getah itu diusapkan ke rambut dan mengeluarkan busa. "Ini sampo alami. Sampo hutan. Mencegah kerontokan dan menyuburkan rambut," ungkap Ayun. Penasaran, saya pun memegangnya. Benar-benar licin dan berbusa seperti sampo.

 

Matahari tenggelam, menandai akhir perjalanan kami. Tak ada seorang pun yang tampak murung hari itu. Gelak tawa pecah di antara gemuruh arus sungai. Tempat kami menghilangkan penat juga dahaga. (*)

 
Editor : Indra Zakaria