Senin (25/3) pukul 11.25 Wita, saya tiba di puncak. Alhamdulillah. Sesudah kami bertiga, anggota ekspedisi lainnya datang menyusul. Semuanya tiba dengan wajah cerah ceria. "Mantap!" ujar ketua tim ekspedisi, Raden Rafiq Sepdian Fadel Wibisono sambil mengacungkan dua jempol.
Terakhir tiba adalah Pius Renaldi Indra Gampung. Pemuda dengan postur badan paling besar di antara kami. Ia tampak sangat bahagia. Di puncak, porter senior kami, Hasan mendatangi sebuah tempat yang dipagari baja ringan, kayu ulin, dan kain kuning lusuh.
Luasnya tak seberapa. Bentuknya persegi empat. Di dalamnya terdapat tunas kelapa dan tumbuhan serai. Di situ juga ada mangkuk, piring, dan gelas. "Datuk, kami sampai di sini datuk," kata Hasan takzim. Mulutnya tampak komat-kamit.
Dijelaskannya, itu adalah area sakral. Tempat para Balian (penghulu adat Dayak) berdoa dan meletakkan sesajen usai menggelar aruh di balai adat.
Sesajen yang diantar meliputi hasil alam sampai makanan olahan seperti kue. "Kawasan ini sengaja dipagari agar tidak ada yang mengusik," terangnya.
Di puncak Hauk, lelah berhari-hari di perjalanan seketika terbayarkan. Kami banyak berfoto dan mengambil video untuk dokumentasi.
Hasan mengajak saya melipir ke sisi tebing, menunjukkan spot foto terbaik, "Bagaimana, indah bukan," tanyanya.Memang sangat indah. Tapi, agak ngeri berdiri lama-lama di sisi tebing. Usai mengambil beberapa foto, saya memilih mundur.
Sejam kemudian, rombongan memutuskan turun. Rutenya berbeda dengan rute keberangkatan. Kami memakai rute Batu Ajung. Menuju wisata sungai di Desa Ajung. Coba tebak, berapa lama? Kami tiba di bawah sekitar pukul 16.43 Wita. Tak sampai setengah hari perjalanan.
Meski tidak seberat rute kemarin, tetap saja melelahkan. Kaki lebih cepat penat, karena terus menyusuri jalan menurun. Panoramanya berbeda dengan pendakian kemarin. Kami melewati Hutan Kayu Habang. Sesuai namanya, hutan ini hanya diisi pepohonan berwarna merah. Ada pula batu besar yang bentuknya seperti gorila raksasa. Bentuknya benar-benar mirip seperti kingkong. Di rute ini juga tak perlu capek-capek menghunus parang untuk menyibak tanaman liar.
Tak perlu takut tersesat, sebab jalurnya sudah ada dan pasti. Di situ juga banyak penanda jalan. Akhirnya, kami pun tiba di Batu Ajung dengan sungainya yang besar dan jeram.
Mirip dengan Sungai Amandit di kawasan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Bedanya, di sungai ini tak ada lanting atau rakit bambu. Saya melihat Pius dan Ayun asyik di pinggir sungai, menumbuk akar langir. Ketika ditumbuk, akar itu mengeluarkan getah berwarna putih. Getah itu diusapkan ke rambut dan mengeluarkan busa. "Ini sampo alami. Sampo hutan. Mencegah kerontokan dan menyuburkan rambut," ungkap Ayun. Penasaran, saya pun memegangnya. Benar-benar licin dan berbusa seperti sampo.
Matahari tenggelam, menandai akhir perjalanan kami. Tak ada seorang pun yang tampak murung hari itu. Gelak tawa pecah di antara gemuruh arus sungai. Tempat kami menghilangkan penat juga dahaga. (*)