Berdasarkan pedoman, untuk memastikan diagnosa, kedelapan sampel tersebut kemudian dikirimkan ke laboratorium rujukan yang terakreditasi yaitu Balai Veteriner (BVet) Banjarbaru untuk dilakukan pengujian menggunakan metode CFT. “Hasilnya ada tiga sapi yang menunjukkan hasil positif (Brucellosis),” bebernya.
Alhasil, ketiga sapi tersebut harus ditahan dan dimusnahkan, dengan cara dipotong paksa untuk mencegah risiko penyebaran penyakit Brucellosis pada hewan ternak di Kalimantan Selatan.
Bukan tanpa alasan pemotongan paksa itu dilakukan. Brucellosis yang disebabkan oleh bakteri Brucella abortus ini merupakan penyakit zoonosis, yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia. “Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini bisa berdampak negatif pada kesehatan hewan dan masyarakat,” terang Sudirman.
Pada sapi, penyakit ini dapat mengakibatkan terjadinya keguguran (abortus), pedet lahir mati (stillbirth) atau lahir lemah, jarak beranak lebih lama (calving interval), dan penurunan produksi susu.
Sementara pada manusia dapat menyebabkan demam, sakit kepala, lemah dan nyeri sendi. “Hama dan penyakit hewan seperti Brucellosis ini bisa menyebar dengan cepat, terlebih lagi saat ini sudah mendekati hari raya kurban atau Iduladha,” pungkasnya. (*)
Tentang Brucellosis
- Penyakit menular dari hewan ke manusia (zoonosis).
- Bisa masuk melalui mata, kulit, selaput lendir, saluran pernapasan, dan saluran pencernaan, kemudian bertahan hidup di dalam sel-sel tubuh.
- Pada sapi, dapat mengakibatkan keguguran (abortus), pedet lahir mati (stillbirth) atau lahir lemah, jarak beranak lebih lama (calving interval), dan penurunan produksi susu.
- Pada manusia dapat menyebabkan demam, sakit kepala, lemah dan nyeri sendi.