Video kecelakaan itu viral di media sosial. Hingga Jumat (17/5) petang, sudah ditonton 2 ribu pasang mata.
Salah seorang warga Pulau Bromo, Widodo menuturkan, korban berasal dari Aluh Aluh, Kabupaten Banjar.
"Rencananya mau jalan-jalan ke rumah keluarganya di sini," ungkap mantan Ketua RT 6 Pulau Bromo itu kepada Radar Banjarmasin, Jumat (17/5) siang.
"Biasanya mereka sekeluarga datang naik perahu, tapi kemarin pakai sepeda motor," tambahnya.
"Sudah berkali-kali peristiwa seperti ini terjadi," keluhnya.Apa yang diutarakan Widodo bukan isapan jempol.
Sudah tidak terhitung lagi korban kecelakaan di oprit jembatan gantung seharga Rp40 miliar itu.
Banyak warga Pulau Bromo yang menyebut turunan jembatan itu terlalu curam.
"Setengah bulan yang lalu juga kejadian. Lengan si pengendara patah. Korban pun dibawa ke rumah sakit," ungkapnya.
"Saya berharap dan meminta tolong pada pemerintah. Yang jadi korban luka sudah tidak terhitung lagi," tekannya.
Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Suri Sudarmadiyah mengaku sudah melihat video viral itu.
Tim dari PUPR dan Dinas Perhubungan juga sudah ke lokasi untuk melihat kondisinya. Dari hasil evaluasi teknis, disimpulkan bentuk oprit jembatan itu perlu dirombak.
"Nanti kami usulkan perbaikannya di APBD Perubahan 2024. Diusulkan dulu," ujarnya. "Mungkin turunan jembatan akan diperpanjang.
Atau dibuat seperti apa, tergantung hasil kajian lanjutan. Kami sudah memiliki beberapa opsi desain," tambahnya.
Terpisah, Kabid Lalu Lintas Dishub Banjarmasin, Febpry Ghara Utama mengatakan, ada niatan untuk memasang rubber speed hump untuk memperlambat kecepatan kendaraan saat menuruni oprit tersebut.
"Semacam polisi tidur tapi terbuat dari bahan karet," ujarnya. Namun sebelum diterapkan, akan dikaji dulu. "Apakah justru membahayakan, itu juga akan dikaji. Termasuk juga jarak pemasangan dan jumlahnya," pungkasnya. (*)