Jenis kekerasan yang dilaporkan seperti kekerasan remaja, perundungan, pelecehan, hingga kekerasan seksual. "Kekerasan dan pelecehan paling banyak terjadi selama libur sekolah," tambahnya.
Meski terjadi peningkatan kasus, Ramadhan menilai, ini menunjukkan bahwa masyarakat kian sadar dan berani melapor. "Ini memudahkan DP3A dalam menangani kasus dan memberikan pendampingan kepada korban," tekannya.
Upaya DP3A utamanya adalah edukasi. "Sasarannya kelurahan, sekolah, hingga lembaga masyarakat. Kami menyediakan metode dan materi menarik," ujarnya.
Kemudian, mengelola forum aktivis peduli perempuan dan anak. Dan memperkuat jejaring dengan instansi lain. Menurutnya, keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat boleh dikatakan semakin baik.
Lebih jauh, Ramadhan berharap perilaku mewajarkan kekerasan di rumah tangga, lingkungan dan institusi pendidikan bisa dilenyapkan. "Kita juga harus menghilangkan pemikiran bahwa masalah rumah tangga orang adalah bukan urusan kita," pesannya.
"Karena jika pemikiran ini terus dibiarkan, maka kekerasan dalam rumah tangga menjadi semakin sulit diatasi dan dampaknya akan semakin memburuk. Tumbuhkan kepedulian antar sesama," tegasnya. "Aktivis Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) telah terbentuk di seluruh kelurahan," ujarnya. (*)
"Mereka berperan sebagai perpanjangan tangan DP3A dalam pencegahan dan penanganan kekerasan pada perempuan dan anak," lanjutnya.