Sejumlah wilayah di Kota Banjarmasin kembali dilanda banjir rob akibat fase pasang air laut. Genangan air merendam beberapa ruas jalan, seperti Jalan Kayu Tanggi di Banjarmasin Utara dan Jalan Lambung Mangkurat di Banjarmasin Tengah.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin, Husni Thamrin mengatakan banjir rob kali ini berkaitan dengan fase kedua pasang air laut yang diperkirakan berlangsung pada tanggal 17-26 April 2025.
"Puncak pasang terjadi pukul 12.00-18.00 Wita dengan ketinggian air diprediksi mencapai 2,8 meter di atas permukaan laut," ujarnya. Sebelumnya, fase pertama pasang air laut terjadi pada 4-10 April dengan ketinggian air mencapai 2,9 meter.
Husni menambahkan, banjir rob kali ini diperparah oleh tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir. "Kondisi geografis Banjarmasin yang berada di bawah permukaan laut menjadikan kota ini rentan terhadap banjir, terutama saat pasang air laut bersamaan dengan hujan deras," terangnya.
Beberapa kawasan, seperti Tanjung Pagar, Pemurus Dalam, dan Pemurus Luar, bahkan pernah mengalami genangan air hingga berminggu-minggu. Hasil evaluasi BPBD, penyempitan aliran sungai akibat bangunan liar dan tumpukan sampah menjadi faktor utama yang memperparah banjir.
Terpisah, Kepala Bidang Sungai di Dinas Pekerjaan Umum Banjarmasin, Hizbul Wathony mengatakan pengerukan Sungai Martapura dibutuhkan agar banjir rob berulang. "Jika sungai ini didalami, daya tampungnya akan meningkat sehingga bisa mengurangi genangan di kawasan-kawasan lain," jelasnya, Selasa (22/4).
Usulan pengerukan sudah beberapa kali disampaikan ke Pemprov Kalimantan Selatan dan pemerintah pusat, mengingat kewenangan pengerukan Sungai Martapura berada di Balai Wilayah Sungai (BWS) III Kalimantan.
"Jika Sungai Martapura dikeruk, akan membantu aliran air dari sungai-sungai kecil seperti Sungai Kelayan dan Sungai Pekapuran," tambah Thony, sapaannya.
Kedalaman Sungai Martapura terus berkurang akibat sedimentasi. Data tahun 2010 mencatat kedalaman mencapai 12 meter, tetapi kini hanya tersisa sekitar 5-6 meter. "Kalau dibiarkan, kedangkalan akan terus meningkat," ujarnya.
Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin mengatakan normalisasi masih berfokus pada pengerukan sungai-sungai kecil di tengah kota. "Dalam program 100 hari kerja, kami prioritaskan pengerukan sungai di Jalan Sutoyo S, Jafri Zamzam, dan Belitung. Setelah itu, kami akan mengusulkan pengerukan Sungai Martapura," ujarnya.
Sementara itu, Kepala BWS III Kalimantan, I Putu Eddy Purna Wijaya mengamini pengerukan Sungai Martapura harus dilakukan bersamaan dengan upaya lain, seperti pengendalian pemanfaatan lahan di sekitar daerah aliran sungai dan konservasi lingkungan.
Namun, Sungai Martapura belum dapat segera dikeruk karena saat ini BWS masih fokus pada pengerukan anak-anak sungai melalui program pemeliharaan reguler.
"Pengerukan adalah solusi teknis yang penting, tetapi harus diimbangi dengan langkah-langkah lain untuk memastikan keberlanjutan penanganan banjir," pungkas Eddy.
Ketua Komisi III DPRD Banjarmasin, Muhammad Ridho Akbar berkomitmen akan terus mengawal. "Pengerukan Sungai Martapura ini juga menjadi salah satu fokus kami, agar dapat mengurangi potensi banjir di Banjarmasin," katanya.
"Sebab jika hanya mengeruk anak sungai tanpa normalisasi Sungai Martapura, sepertinya upaya tersebut tidak akan membuahkan hasil signifikan," imbuhnya. Ia pun berkomitmen untuk membantu pemko membangun komunikasi, baik dengan pemprov maupun BWS, supaya rencana ini bisa terwujud. (*)
Editor : Indra Zakaria