Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Keluhan Driver Taksi Online di Banjarbaru, Mencari Rp100 Ribu Saja Susah

Indra Zakaria • 2025-04-23 12:45:00
TUNGGU ORDERAN: Base camp komunitas Petai Driver Online Community (P
TUNGGU ORDERAN: Base camp komunitas Petai Driver Online Community (P

 

Taksi online kini semakin ditinggalkan penggunanya. Dulu sehari bisa dapat 20 orderan, sekarang untuk mendapatkan lima pesanan saja harus menunggu sampai malam.

****
Di sebuah pondokan sederhana di Jalan Petai, tepatnya di belakang Q Mall Banjarbaru, tampak sekitar enam driver taksi online berkumpul santai. Tempat itu merupakan base camp Komunitas Petai Driver Online Community (P’DOC).

Suasana akrab sangat terasa saat anggota komunitas kumpul, sesekali terdengar tawa. Namun di balik canda itu, mereka menyimpan keresahan yang sama.

Hampir berjam-jam menunggu, tak satu pun notifikasi pesanan yang masuk dari aplikasi. “Ya, gini lah sekarang, kurang banget pemesannya,” keluh Abizar, salah satu driver taksi online yang ditemui Radar Banjarmasin..

Abizar memutuskan menjadi driver taksi online sejak awal 2023. Namun jauh sebelumnya, ia sudah lebih dulu berkecimpung di dunia ojek online roda dua sejak 2019. Saat itu, penghasilannya cukup menjanjikan. “Pernah sebulan tembus Rp9 juta. Dapat Rp5 juta juga gampang, ada bonus pula,” kenangnya.

Namun masa kejayaan itu mulai redup sejak pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Pembatasan sosial membuat orderan anjlok drastis. “Waktu itu sehari cari Rp100 ribu aja susah, padahal sebelumnya bisa dapat Rp200 ribu,” ucapnya.

Setelah pandemi mereda pada 2022, order mulai kembali normal. Tapi muncul masalah baru, yakni ledakan jumlah mitra baru di roda dua. “Orderan makin terbagi, akhirnya saya pindah ke roda empat pada 2023. Bisa carter, bisa rental, peluang lebih banyak,” katanya.

Awalnya, keputusan itu terasa tepat. “Tahun pertama, cari Rp500 ribu sehari masih bisa, 20 order dari pagi sampai malam,” ucapnya. Tapi memasuki pertengahan 2024, tren kembali menurun. Kini, sejak awal 2025, mendapatkan Rp100 ribu pun harus menunggu hingga malam.

Ia juga mengeluhkan perubahan sistem potongan aplikasi. “Dulu tarif trip pendek sekitar 4 Km itu Rp12.800, potongannya kecil. Sekarang tarifnya naik jadi Rp16 ribu, tapi potongan aplikasi bisa lebih dari 30 persen,” katanya. Sebagai contoh, dari tarif Rp26 ribu untuk jarak 5 Km, driver hanya menerima Rp16 ribu bersih.

Tarif yang tidak sesuai jarak ini sangat memberatkan, jarak jauh tarif kecil. "Kalau gak diambil, akun kami nanti jadi buruk," jelasnya.

Keluhan serupa juga disampaikan Khairullah, anggota P’DOC lainnya. Ia menyoroti kebijakan perekrutan mitra baru aplikasi yang terlalu mudah. “Ordernya dikit, mitranya terus nambah. Enggak seimbang,” katanya.

Efisiensi anggaran di pemerintahan sekarang juga berdampak, orang perkantoran dulu sering order. “Sekarang kantor-kantor jarang order. Per hari dulu kadang bisa 15 sampai 20 trip, itu pun tergantung jarak. Sekarang bisa lima sampai tujuh orderan. Belum lagi modal bensin per hari habis Rp150 ribu,” ucapnya.

Persaingan makin ketat dengan hadirnya angkutan milik pemerintah yang bisa masuk ke wilayah perumahan. “Kayak di Lambung Mangkurat, Palam, dulu rame order, sekarang sepi,” katanya.

Momentum orderan, menurut mereka, kini hanya datang saat hujan atau akhir pekan. “Weekend aja lima order udah Alhamdulillah, padahal dulu bisa 20,” ucap Abizar.

Mereka berharap pemerintah bisa ikut turun tangan. “Setidaknya potongan aplikasi disesuaikan. Dan tolong, jangan nambah mitra lagi. Udah kebanyakan. Ordernya sedikit, harus dibagi-bagi,” harap mereka.

Para driver ini juga berharap adanya promo yang masuk akal agar pelanggan tertarik dan driver tidak rugi, serta dukungan dari pemerintah agar profesi ini tetap bertahan. “Cari kerja makin sulit. Kami hidup dari sini, semoga ada yang memperhatikan,” tutup Abizar. (*)

 

Editor : Indra Zakaria