Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Satu Pekan Terisolasi: Banjir Kabupaten Banjar Meluas hingga Rendam 135 Desa

Redaksi Prokal • 2026-01-10 13:00:00
LUMPUH TOTAL : Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Akses transportasi lumpuh total dilihat menggunakan drone pada Kamis (8/1/2026) siang. ( MASRUNI UNTUK RADAR BANJARMASIN)
LUMPUH TOTAL : Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Akses transportasi lumpuh total dilihat menggunakan drone pada Kamis (8/1/2026) siang. ( MASRUNI UNTUK RADAR BANJARMASIN)

 

MARTAPURA – Kondisi geografis Kabupaten Banjar kini tengah menghadapi tantangan besar seiring dengan meluasnya sebaran banjir yang melanda wilayah tersebut. Salah satu titik yang mengalami dampak paling parah berada di RT 03 Desa Lok Baintan Dalam, Kecamatan Sungai Tabuk. Selama lebih dari satu pekan, warga di kawasan ini harus bertahan di tengah kepungan air luapan Sungai Martapura yang mengakibatkan desa mereka kini dalam kondisi terisolasi.

Akses transportasi darat menuju wilayah tersebut dilaporkan lumpuh total karena ketinggian air di badan jalan utama sudah mencapai lebih dari setengah meter. Situasi ini membuat kendaraan bermotor tidak lagi bisa melintas, sehingga mobilitas warga, terutama anak-anak sekolah dan pekerja, menjadi sangat terhambat. Selain memutus akses jalan, banjir juga menghentikan roda perekonomian masyarakat setempat lantaran lahan persawahan dan perkebunan warga terendam sepenuhnya.

Berdasarkan data terbaru dari Pusdalops BPBD Kabupaten Banjar hingga awal Januari 2026, cakupan wilayah terdampak menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Tercatat sebanyak 135 desa dan kelurahan di 12 kecamatan kini telah terendam air, meningkat dari hari-hari sebelumnya. Seiring dengan meluasnya jangkauan banjir, jumlah warga yang terdampak kini mencapai lebih dari 135 ribu jiwa, dengan konsentrasi wilayah terparah berada di Kecamatan Astambul, Sungai Tabuk, Martapura, Martapura Timur, dan Kertak Hanyar.

Di tengah kondisi yang memprihatinkan ini, masyarakat mulai mengeluhkan masalah kesehatan dan distribusi bantuan yang dirasa belum merata. Banyak warga, termasuk kelompok lansia dan anak-anak, mulai terserang penyakit kulit seperti kutu air akibat terlalu lama bersentuhan dengan air banjir. Meski bantuan dari pihak desa telah mulai masuk, jumlahnya dinilai masih sangat terbatas dan belum mampu menjangkau seluruh kepala keluarga yang membutuhkan di titik-titik terpencil.

BPBD juga menaruh perhatian khusus pada kelompok rentan yang terdampak, di mana jumlah lansia, ibu hamil, dan balita yang menjadi korban terus mengalami kenaikan. Meskipun di beberapa titik genangan dilaporkan mulai mengalami penurunan, secara keseluruhan sebaran wilayah banjir justru bertambah luas. Pemerintah daerah kini terus melakukan pemantauan intensif dan upaya kajian cepat untuk menentukan langkah penanganan darurat yang lebih efektif guna meringankan beban warga di pengungsian maupun di lokasi yang masih terisolasi.(*)

Editor : Indra Zakaria