Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bantah Karena Tambang dan Sawit, Pemkab Balangan Sebut Hujan Ekstrem Jadi Pemicu Banjir Tebing Tinggi

Redaksi Prokal • 2026-01-15 14:00:00
MELUAP: Tampak udara kondisi pascabanjir bandang di Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan. (Foto: TRC BPBD Balangan)
MELUAP: Tampak udara kondisi pascabanjir bandang di Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan. (Foto: TRC BPBD Balangan)

 

PARINGIN – Pemerintah Kabupaten Balangan secara resmi meluruskan berbagai spekulasi yang berkembang di masyarakat terkait penyebab banjir bandang yang menerjang Kecamatan Tebing Tinggi. Isu liar yang mengaitkan bencana tersebut dengan aktivitas pertambangan maupun perkebunan sawit di wilayah hulu dipastikan belum terbukti berdasarkan temuan di lapangan.

Pemkab Balangan menegaskan bahwa seluruh evaluasi bencana dilakukan secara objektif berbasis data, bukan atas dasar asumsi. Hal ini didukung oleh hasil koordinasi intensif dengan instansi teknis mulai dari tingkat daerah hingga pusat.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Balangan, H. Rahmi, menjelaskan bahwa berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), faktor utama penyebab petaka tersebut adalah curah hujan yang sangat ekstrem.

“Curah hujan yang turun saat itu sangat tinggi. Jika dianalogikan, volume hujan yang seharusnya turun selama setengah bulan, tumpah hanya dalam satu malam. Dalam kondisi ekstrem seperti ini, kawasan pegunungan tidak mampu lagi menyerap air dalam waktu singkat,” ujar Rahmi pada Rabu (14/1/2026).

Terkait dugaan adanya aktivitas tambang di hulu sungai, Rahmi membeberkan hasil pemetaan sementara bersama Tim Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Hingga saat ini, belum ditemukan adanya aktivitas pertambangan yang terkonfirmasi di wilayah terdampak.

“Saat kunjungan Menteri Lingkungan Hidup ke Balangan beberapa waktu lalu, kementerian sudah menurunkan tim ahli dan menggunakan pemantauan citra satelit. Sampai sekarang, belum ada laporan resmi yang menyebutkan adanya kerusakan ekologis akibat tambang atau perkebunan sawit,” tegasnya.

Rahmi juga menepis isu adanya penebangan hutan secara masif sebagai penyebab banjir. Logikanya, jika ada penebangan liar, maka aliran banjir bandang akan membawa material kayu gelondongan yang dapat menghancurkan rumah warga. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda.

“Berdasarkan keterangan warga, yang terjadi murni luapan air dengan arus sangat deras tanpa disertai material kayu hasil tebangan. Jika ada kayu yang terbawa arus, dampaknya pasti jauh lebih merusak bagi pemukiman,” imbuhnya.

Dengan hasil pemantauan lapangan dan data cuaca ini, Pemkab Balangan mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tervalidasi dan tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi. (*)

Editor : Indra Zakaria