Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Mengenal Istilah 'Bubuhan', Jantung Relasi Sosial dan Identitas Masyarakat Banjar

Redaksi Prokal • 2026-02-16 09:03:11
RELASI SOSIAL: Ilustrasi sekelompok orang dari berbagai latar belakang membentuk identitas kelompok. (Foto: AI)
RELASI SOSIAL: Ilustrasi sekelompok orang dari berbagai latar belakang membentuk identitas kelompok. (Foto: AI)

 

BANJARMASIN — Dalam denyut kehidupan masyarakat Banjar, istilah "bubuhan" bukan sekadar kata biasa, melainkan sebuah representasi sistem relasi sosial yang telah mengakar kuat sejak masa lampau. Kata ini menjadi identitas yang melekat erat untuk menunjukkan kelompok, kekerabatan, hingga eksistensi sosial seseorang di tengah komunitasnya.

Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur, menjelaskan bahwa secara esensial bubuhan bermakna sekumpulan orang yang terikat oleh satu atau beberapa kesamaan. Ikatan ini bisa lahir dari berbagai faktor, mulai dari garis keturunan, tempat tinggal, profesi, hobi, hingga tempat kerja. Intinya, bubuhan merujuk pada lebih dari satu individu yang merasa menjadi bagian integral dari satu kelompok yang sama.

Menilik dari sisi sejarah, bubuhan memiliki peran sentral dalam struktur pemerintahan Banjar kuno. Dahulu, beberapa kelompok bubuhan yang bermukim berdekatan akan membentuk wilayah pemukiman di bawah kepemimpinan tokoh setingkat kepala kampung. Kumpulan wilayah ini kemudian berkembang menjadi struktur yang lebih besar yang dipimpin oleh pejabat bernama lalawangan, sebuah jabatan yang kini setara dengan posisi bupati. Pada masa itu, bubuhan berfungsi sebagai identitas kewilayahan utama bagi masyarakat.

Seiring bergulirnya waktu, makna bubuhan mengalami perluasan fungsi. Kini, istilah tersebut tidak lagi terbatas pada asal-usul kampung, melainkan bergeser menjadi simbol keberadaan sosial dan budaya. Dalam konteks modern, Ersa menyebut bubuhan mirip dengan istilah "sirkel" (circle) pertemanan yang populer di kalangan generasi muda. Ketika seseorang telah masuk ke dalam sebuah sirkel, secara otomatis ia diakui sebagai bagian dari bubuhan tersebut.

Dalam ranah politik dan kekuasaan, istilah ini bahkan memiliki nilai strategis sebagai penanda afiliasi atau kedekatan dengan tokoh tertentu. Ungkapan seperti "bubuhannya gubernur A" sering kali digunakan untuk menunjukkan relasi kuasa, di mana individu yang berada dalam kelompok tersebut dianggap memiliki akses atau keistimewaan tertentu. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh konsep bubuhan dalam menentukan posisi sosial seseorang.

Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat lebih sering menyingkat istilah ini menjadi "buhan". Meski terdengar sederhana, pengakuan melalui kata "buhan kami" memiliki makna penerimaan yang sangat dalam. Di luar bahasa Banjar, bubuhan dapat dipadankan dengan organisasi, paguyuban, atau komunitas, yang hingga kini tetap dilestarikan melalui wadah formal seperti Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) sebagai pengikat silaturahmi warga Banjar di perantauan. (*)

Editor : Indra Zakaria