MARTAPURA – Identitas Kabupaten Banjar sebagai salah satu daerah penghasil kerbau tradisional di Kalimantan Selatan kini menghadapi ancaman serius. Populasi ternak khas rawa tersebut dilaporkan terus menurun tajam akibat terdesak oleh laju pembangunan dan perubahan daya dukung lingkungan yang signifikan di wilayah sentranya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, wilayah yang masih mempertahankan populasi kerbau kini semakin mengerucut. Saat ini, konsentrasi ternak tersebut hanya tersisa di dua wilayah utama, yakni Kecamatan Cintapuri Darussalam dan Kecamatan Aranio.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, drh. Lulu Vila Vardi, mengakui bahwa tantangan melestarikan kerbau jauh lebih berat dibandingkan ternak lain. Salah satu faktor internalnya adalah lambatnya laju reproduksi alami kerbau.
“Secara tradisional, Banjar memang punya populasi kerbau seperti di Hulu Sungai Utara. Namun, kerbau biasanya hanya beranak dua sampai tiga tahun sekali. Berbeda dengan sapi yang bisa satu sampai dua tahun sekali, sehingga pertambahan populasinya memang jauh lebih lambat,” ujar Lulu.
Selain faktor biologis, tekanan lingkungan menjadi faktor eksternal yang paling dominan. Di Kecamatan Cintapuri Darussalam, habitat rawa yang merupakan "rumah" alami bagi kerbau rawa semakin menyempit akibat alih fungsi lahan untuk aktivitas usaha dan pembangunan infrastruktur. Kondisi ini memaksa ruang gerak ternak menjadi sangat terbatas.
Kondisi berbeda terjadi di Kecamatan Aranio. Penurunan populasi di wilayah ini lebih dipicu oleh pergeseran pilihan peternak. Banyak warga yang mulai meninggalkan pemeliharaan kerbau dan beralih ke ternak sapi atau jenis lainnya yang dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi serta lebih praktis dalam pola pemeliharaannya.
Tanpa adanya langkah konservasi atau intervensi teknologi reproduksi yang serius, keberadaan kerbau di Kabupaten Banjar dikhawatirkan akan terus tergerus dan hanya menjadi bagian dari catatan sejarah peternakan masa lalu.(*)
Editor : Indra Zakaria