BANJARMASIN – Ibadah puasa di Kota Seribu Sungai kini tengah menghadapi tantangan besar terkait perilaku konsumsi dan kedisiplinan masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin melaporkan adanya lonjakan drastis volume sampah yang mencapai 10 persen selama bulan Ramadan jika dibandingkan dengan hari-hari biasa. Padahal, dalam kondisi normal, rata-rata produksi sampah di kota ini sudah berada pada angka yang cukup tinggi, yakni di kisaran 400 hingga 600 ton setiap harinya.
Fenomena tahunan ini dipicu oleh perubahan drastis pola belanja dan konsumsi masyarakat yang cenderung meningkat saat waktu berbuka puasa dan sahur. Sayangnya, peningkatan aktivitas belanja ini tidak dibarengi dengan kesadaran untuk meminimalisir sisa makanan. Kabid Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH Banjarmasin, Marzuki, mengungkapkan bahwa sisa hidangan yang tidak habis dikonsumsi, terutama sayuran dan buah-buahan, menjadi penyumbang dominan terhadap tumpukan sampah organik di berbagai sudut kota.
Selain masalah sisa makanan, gaya hidup praktis warga yang semakin gemar menggunakan kemasan siap saji sekali pakai turut memperparah keadaan. Sampah plastik berbahan styrofoam serta bungkus paket dari aktivitas belanja daring kini memenuhi tempat pembuangan, menjadi tantangan tersendiri bagi petugas kebersihan karena jenis material tersebut sangat sulit untuk didaur ulang. Lonjakan limbah kemasan ini menjadi bukti nyata bahwa perilaku konsumsi warga belum selaras dengan semangat pelestarian lingkungan.
Kondisi ini memaksa DLH Banjarmasin untuk bekerja ekstra keras melalui penerapan program "surung sintak" dan optimalisasi fasilitas daur ulang guna mengimbangi laju pertumbuhan sampah yang kian tak terkendali. Tanpa adanya disiplin dari masyarakat untuk mengatur porsi makan dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, upaya pemerintah dalam menjaga kebersihan kota selama bulan suci ini terancam sia-sia. Masyarakat pun kini dituntut untuk lebih bertanggung jawab agar tidak membiarkan Ramadan berlalu dengan meninggalkan gunungan sampah bagi lingkungan.(*)
Editor : Indra Zakaria