BARABAI – Ancaman virus HIV di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) kian mengkhawatirkan dan menjadi perhatian serius otoritas kesehatan setempat. Berdasarkan temuan di lapangan, pola penularan kini tidak lagi didominasi oleh hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK), namun juga dipicu oleh perilaku lelaki seks lelaki (LSL) atau kelompok gay. Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi tenaga medis karena sering kali tersembunyi di balik stigma sosial yang kental.
Dokter umum Puskesmas Barabai, dr. Marisa Vasa, mengungkapkan realitas tersebut berdasarkan pengakuan langsung dari pasien-pasien yang tengah ditanganinya. Dari sembilan orang yang saat ini dalam pendampingannya, dua di antaranya terkonfirmasi tertular akibat perilaku LSL. Marisa menyebutkan bahwa keterbukaan pasien merupakan langkah awal yang sulit namun krusial untuk memutus rantai penularan.
"Perilaku LSL menjadi salah satu faktor penyebab HIV di HST. Selain hubungan seks dengan PSK, perilaku ini nyata adanya berdasarkan data pasien kami," ujar dr. Marisa Vasa pada Rabu (4/3/2026).
Tantangan terbesar dalam menangani penderita HIV di Barabai adalah faktor psikologis dan tekanan sosial. Marisa membeberkan bahwa pada fase awal diagnosis, banyak pasien yang menunjukkan reaksi penolakan, seperti menghindar, kabur, hingga menolak hasil medis. Namun, melalui pendampingan mental yang intensif, sebagian besar akhirnya bisa menerima kondisi mereka dan mulai disiplin mengikuti prosedur pengobatan. Sayangnya, konsistensi ini sering kali goyah akibat rasa malu yang membuat pasien memberikan "harapan palsu" kepada petugas medis.
“Sudah dihubungi petugas tapi akhirnya dapat harapan palsu. Pasien tak mau lagi datang karena alasan malu dan tekanan sosial,” bebernya dengan nada prihatin.
Data dari Dinas Kesehatan HST memperkuat tingkat kegentingan situasi ini; sepanjang tahun 2025 saja, tercatat ada 53 warga yang positif HIV, di mana 70 persen di antaranya dipicu oleh perilaku seks berisiko. Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Kesehatan HST, dr. Desfi Delfiana Fahmi, menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan pemeriksaan rutin terhadap ratusan orang setiap bulan. Meski demikian, ia mengakui adanya kendala dalam memetakan kelompok berisiko secara spesifik.
"Untuk data penderita HIV selalu kami update. Tapi untuk data populasi para LGBT di HST tidak ada, karena memang sulit untuk didata secara terbuka," ungkap dr. Desfi.
Di akhir keterangannya, dr. Marisa menekankan bahwa pencegahan tidak bisa hanya dilakukan oleh tim medis, melainkan tanggung jawab kolektif. Ia mengimbau orang tua dan lingkungan untuk lebih waspada terhadap ancaman predator seksual yang dapat merusak masa depan anak-anak. Edukasi mengenai hubungan seksual yang sehat hanya dengan pasangan sah serta ketelitian dalam prosedur transfusi darah diharapkan mampu menekan angka penularan yang kian mengancam Bumi Murakata. (*)
Editor : Indra Zakaria