Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Banjarmasin Nihil Kasus Positif Campak, Dinkes Tetap Siaga dan Genjot Imunisasi Kejar

Redaksi Prokal • 2026-03-11 07:45:00

ilustrasi campak
ilustrasi campak

BANJARMASIN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin mengonfirmasi bahwa hingga awal Maret 2026, belum ditemukan satu pun kasus positif campak di wilayah "Kota Seribu Sungai". Meski demikian, sistem kewaspadaan tetap diperketat menyusul adanya laporan sejumlah pasien yang menunjukkan gejala serupa atau suspek.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarmasin, dr. Emma Ariesnawati, mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga 6 Maret 2026, tercatat ada 10 kasus suspek yang dilaporkan oleh berbagai fasilitas kesehatan. Namun, setelah dilakukan uji laboratorium yang mendalam, seluruh hasilnya dinyatakan negatif.

"Berdasarkan laporan di aplikasi SKDR, sampai saat ini belum ada kasus campak yang terkonfirmasi positif. Sepuluh sampel yang kami kirim ke Labkesmas Banjarbaru semuanya kembali dengan hasil negatif," jelas dr. Emma pada Selasa siang.

Menariknya, data menunjukkan adanya tren penurunan laporan suspek dibandingkan tahun lalu. Jika pada periode Januari–Februari 2025 terdapat 103 kasus suspek, pada periode yang sama tahun ini angka tersebut turun menjadi 84 kasus. Penurunan ini dinilai berkaitan erat dengan tingginya capaian imunisasi rutin di Banjarmasin yang secara konsisten melampaui target nasional sebesar 80 persen.

Kendati situasi terkendali, Dinkes tidak ingin lengah mengingat tingginya mobilitas warga antardaerah. Protokol penyelidikan epidemiologi 1 x 24 jam telah disiapkan bagi setiap temuan kasus baru. Selain itu, tenaga kesehatan dan kader di tingkat lingkungan diminta lebih peka terhadap gejala demam yang disertai ruam pada anak-anak.

Sebagai langkah perlindungan tambahan, Dinkes kini gencar melaksanakan program imunisasi kejar (catch-up) yang menyasar balita usia 9 hingga 59 bulan yang belum mendapatkan perlindungan lengkap. Upaya ini dibarengi dengan penguatan tata laksana medis, termasuk pemberian vitamin A bagi pasien yang dicurigai sebagai bentuk langkah antisipatif dini. (*)

Editor : Indra Zakaria