PARINGIN- Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membayangi wilayah Kabupaten Balangan seiring dengan mendekatnya musim kemarau. Berdasarkan rilis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim panas di daerah berjuluk Bumi Sanggam ini diprediksi akan mulai terjadi pada rentang April hingga Mei 2026.
Saat ini, Balangan masih berada dalam masa transisi atau pancaroba yang ditandai dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Meskipun potensi kekeringan mulai terlihat di beberapa titik, Pemerintah Kabupaten Balangan hingga kini belum menetapkan status siaga darurat karhutla karena masih fokus pada masa pemulihan pasca-banjir.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balangan, H. Rahmi, menjelaskan bahwa penetapan status siaga nantinya akan merujuk pada kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan serta perkembangan titik panas (hotspot) dalam beberapa pekan ke depan.
"Untuk status penanganan banjir kita lanjut dalam transisi menuju pemulihan. Namun, untuk penetapan status potensi bencana karhutla, kita masih menunggu perkembangan kondisi cuaca," ujar Rahmi pada Kamis (12/3/2026).
Meskipun status resmi belum diketuk, BPBD telah memperkuat langkah antisipasi, terutama di wilayah yang memiliki karakteristik lahan gambut. Kerawanan ini diperparah dengan siklus pasca-panen padi yang menyisakan tumpukan jerami kering di lahan pertanian, yang sangat mudah memicu api jika terbakar.
Guna menekan risiko, BPBD memastikan sarana dan prasarana pemadaman telah disiagakan di seluruh wilayah. Saat ini, setiap kecamatan di Balangan sudah didukung oleh satu unit mobil pemadam kebakaran. Sementara di tingkat desa, peralatan mesin alkon serta sosialisasi rutin kepada masyarakat terus dioptimalkan.
Melalui kesiapsiagaan ini, diharapkan potensi kebakaran hutan dan lahan di Balangan dapat ditekan seminimal mungkin selama musim kemarau mendatang, sehingga kualitas udara dan ekosistem tetap terjaga. (*)
Editor : Indra Zakaria