PROKAL.CO - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotabaru mencatat dinamika signifikan dalam temuan kasus HIV serta pola interaksi kelompok marjinal di wilayah Bumi Saijaan sepanjang tahun 2025. Hingga awal tahun 2026, data menunjukkan adanya 27 kasus baru HIV yang terdeteksi, yang memicu peningkatan kewaspadaan otoritas kesehatan setempat.
Kepala Dinas Kesehatan Kotabaru, Erwin Simanjuntak, mengungkapkan bahwa fenomena kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Kotabaru kini mulai menunjukkan pergeseran perilaku. Kelompok transgender saat ini dinilai jauh lebih berani tampil di ruang publik dibandingkan kelompok gay, lesbian, atau biseksual yang cenderung masih bergerak secara tertutup atau senyap.
“Khususnya transgender, mereka belakangan ini lebih terbuka dan berani muncul di masyarakat. Sementara kelompok lainnya masih cenderung tertutup atau bergerak hening,” ujar Erwin saat memberikan keterangan kepada Radar Banjarmasin.
Keterbukaan data dan interaksi ini menjadi faktor krusial bagi Dinkes dalam upaya memutus rantai penularan penyakit menular seksual. Berdasarkan data kumulatif selama satu dekade terakhir (2015 hingga awal 2025), tercatat sebanyak lima kasus HIV ditemukan pada kelompok spesifik tersebut di Kotabaru.
Meski angka akumulatif pada kelompok ini tergolong kecil dibandingkan total temuan 27 kasus baru pada tahun 2025, Dinkes tetap menetapkan mereka sebagai salah satu sasaran utama dalam program penanggulangan HIV/AIDS. Pendekatan persuasif terus dikedepankan agar warga yang berisiko mau memeriksakan status kesehatannya secara sukarela tanpa merasa terstigma.
“Kami terus melakukan upaya persuasif agar mereka mau secara sadar dan sukarela memeriksakan status HIV-nya ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tambah Erwin.
Pihak Dinkes juga menjamin dukungan penuh bagi warga yang dinyatakan positif agar mendapatkan pengobatan secara rutin. Langkah ini dinilai vital untuk menjaga kualitas hidup penderita sekaligus menekan risiko penularan lebih luas di masyarakat. Erwin menegaskan bahwa konsistensi pengobatan adalah kunci agar penderita tidak sampai putus obat dan tidak menjadi sumber penularan baru bagi orang lain. (*)
Editor : Indra Zakaria