Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Gubernur Yakin Program Food Estate Berhasil

izak-Indra Zakaria • 2021-02-03 10:56:00
PANGAN: Usai melakukan peninjauan di Belanti Siam, gubernur beserta rombongan menuju lokasi food estate di Bataguh, Kabupaten Kapuas, (2/2). DISKOMINFO UNTUK KALTENG POS
PANGAN: Usai melakukan peninjauan di Belanti Siam, gubernur beserta rombongan menuju lokasi food estate di Bataguh, Kabupaten Kapuas, (2/2). DISKOMINFO UNTUK KALTENG POS

PULANG PISAU-Beberapa kelompok tani di lokasi pengembangan food estate Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) sudah melakukan panen. Akan tetapi, hasilnya belum maksimal. Oleh karena itu, Gubernur Kalteng H Sugianto Sabran memutuskan turun langsung mengecek lokasi dan keberlangsungan program ketahanan pangan di Kecamatan Pandih Batu.

Diungkapkan Sugianto, setelah melakukan peninjauan bersama Kapolda Kalteng Irjen Pol Dedi Prasetyo dan Darem 102 Panju Panjung Brigjen TNI Purwo Sudaryanto, ia menilai bahwa wilayah pengembangan food estate ini secara umum sudah terkelola dengan baik. Terhadap hasil dari food estate yang dikeluhkan petani dengan alasan mengalami penurunan hasil panen, gunernur memastikan akan melakukan pengecekan detail sekaligus evaluasi.

“Terhadap hasil panen, pemerintah akan ambil langkah mengatasi kekurangan, pemerintah akan turun tangan atas keadaan di lapangan,” katanya, kemarin.

Dijelaskan gubernur, pengelolaan food estate ini didampingi oleh orang-orang ahli dalam bidang pertanian. Pemerintah provinsi akan melakukan evaluasi bersama pihak-pihak yang menangani teknis di lapangan.

“Kami memiliki orang-orang yang ahli di kawasan food estate ini, kami optimistis bahwa program food estate ini berhasil,” jelasnya kepada awak media.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kalteng Sunarti mengatakan, terkait kondisi panen di lokasi food estate yang menurun, tidak mewakilkan secara umum program food estate. Sebab, tidak semua hasil panen mengalami kondisi yang sama. Bahkan masih banyak titik yang belum saatnya panen.

“Kami cek kebenarannya, kami kumpulkan para petani dan kepala desa (kades),” tegasnya.

Sunarti mengatakan, memang ada beberapa petani yang mengakui tidak mengikuti anjuran pemerintah dalam proses penanaman. Pasalnya, pemerintah menganjurkan penanaman padi dilakukan dengan sistem tanam pindah (tapin).

“Namun yang terjadi di lapangan masih ada petani yang melakukan penanaman dengan sistem tabur benih langsung (tabela),” katanya.

Ia menjelaskan, apabila petani menggunakan metode penanaman padi dengan sistem tabela, saat padi sudah mulai tumbuh, akar tidak tumbuh ke dalam, sehingga apabila terkena angin, akan langsung rebah. Hal itulah yang mengakibatkan para petani harus panen pada waktu yang tidak seharusnya.

“Berbeda dengan sistem tapin, petani harus melakukan semai terlebih dahulu sebelum melakukan penanaman, prosesnya memang tidak semudah sistem tabela,” ucapnya.

Mengenai masa tanam yang dianggap petani tidak sesuai dengan waktu tanam, pihaknya menjelaskan bahwa masa tanam itu dikenal dengan Oktober-Maret (Okmar). Apabila pada awal Oktober para petani melakukan semai benih, maka pada akhir Oktober sudah bisa dimulai penanaman.

“Jika dilakukan dengan benar sesuai sistem tapin, pada awal Oktober disemai dan akhir Oktober dilakukan penanaman, maka hasilya akan maksimal,” tegas Sunarti.

“Begitu pun untuk benih, dalam pengembangan ini tidak hanya fokus pada satu atau dua varietas saja,” tambahnya. (abw/ce/ala)

Editor : izak-Indra Zakaria