PANGKALAN BUN – Masyarakat di wilayah Kalimantan Tengah, khususnya Kotawaringin Barat, dikejutkan dengan perubahan cuaca drastis dalam sepekan terakhir. Matahari yang bersinar terik sejak siang hingga malam hari yang terasa gerah memicu kekhawatiran warga akan datangnya musim kemarau lebih awal. Kondisi kering ini bahkan telah memicu kebakaran lahan gambut di Desa Sungai Kapitan, Sabtu (17/1).
Stasiun Meteorologi (Stamet) Bandara Iskandar Pangkalan Bun memberikan klarifikasi atas anomali cuaca ini. Prakirawan Stamet, Eko Yulianto Nugroho, menegaskan bahwa secara klimatologis, Januari masih merupakan periode musim hujan dengan kriteria curah hujan bulanan di atas 150 milimeter.
Udara panas dan kering yang dirasakan warga saat ini disebabkan oleh rendahnya kelembapan udara. Hal ini dipicu oleh adanya gangguan cuaca berupa tekanan rendah atau bibit siklon di bagian selatan wilayah Indonesia. Gangguan ini menarik massa udara sehingga menghambat pembentukan awan hujan di wilayah Kalimantan Tengah.
"Rendahnya kelembapan udara membuat pembentukan awan hujan terhambat, sehingga udara terasa lebih kering dan angin bertiup lebih kencang. Dalam sepekan ke depan, cuaca diprakirakan tetap cerah berawan," jelas Eko, Sabtu (17/1).
Dampak dari cuaca ekstrem ini sudah mulai terlihat di lapangan. Kebakaran lahan melanda area perkebunan sawit dan lahan kosong di Desa Sungai Kapitan, Kecamatan Kumai. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kobar harus berjibaku selama empat jam untuk memadamkan api yang melahap dua hektare lahan gambut sebelum akhirnya berhasil dikendalikan pada pukul 20.00 WIB.
Meski didominasi cuaca panas, BMKG mengingatkan warga untuk tetap waspada. Potensi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang secara lokal masih bisa terjadi akibat pertumbuhan awan cumulonimbus. Masyarakat juga diminta menjaga kondisi tubuh di tengah udara yang gerah serta tidak melakukan pembakaran lahan yang dapat memicu kebakaran besar di musim yang tidak menentu ini. (*)
Editor : Indra Zakaria