SAMPIT – Kondisi Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono, Sampit, semakin mengkhawatirkan dan mengancam keselamatan pengguna jalan. Pada Selasa malam (20/1/2026), setidaknya dua unit mobil dilaporkan mengalami pecah ban saat melintas di atas jembatan tersebut akibat kondisi lantai yang rusak parah dan besi plat yang mencuat.
Insiden ini menjadi viral setelah video peringatan dari warga beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, warga mengimbau pengendara untuk ekstra waspada saat melintasi akses vital di Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang tersebut.
"Hati-hati bagi yang lewat Jembatan Patah Kapten Mulyono, sudah dua mobil jadi korban pecah ban malam ini," ungkap seorang warga dalam rekaman video tersebut.
Kerusakan jembatan diduga dipicu oleh lepasnya besi plat lantai yang berfungsi sebagai pelindung kayu jembatan. Mirisnya, plat besi tersebut ditemukan warga tergeletak di semak-semak pinggir jalan, tak jauh dari lokasi. Diduga kuat, material jembatan tersebut sengaja dilepas oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk dicuri, namun gagal dibawa kabur.
Nanang, salah seorang warga sekitar, mengonfirmasi temuan tersebut. "Sudah saya lihat besinya ada di pinggir jalan, di dalam rumput. Sepertinya ada yang mau mencuri. Mau saya angkat dan kembalikan ke tempatnya, tapi sangat berat," tuturnya.
Terlepasnya plat besi tersebut menyisakan celah berbahaya dan baut serta paku yang menonjol ke permukaan. Kondisi ini sangat sulit terlihat oleh pengendara, terutama pada malam hari karena minimnya penerangan di area tersebut. Selain itu, jembatan kayu yang sudah berusia puluhan tahun ini mengeluarkan suara derit panjang dan tampak melendut setiap kali dilintasi kendaraan bermuatan berat.
Kawasan ini sejatinya merupakan jalur padat yang sering dilalui truk bermuatan Crude Palm Oil (CPO). Beban kendaraan yang melebihi tonase disinyalir menjadi penyebab utama rusaknya struktur jembatan meski sudah sering diperbaiki secara tambal sulam.
Masyarakat setempat kini mendesak Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk segera mengambil langkah nyata dengan membangun jembatan permanen. Warga menilai perbaikan sementara tidak lagi efektif dan hanya menunggu waktu sampai terjadi kecelakaan yang lebih fatal atau memakan korban jiwa.(*)
Editor : Indra Zakaria