SAMPIT – Fenomena alam yang tidak biasa sedang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur di awal tahun 2026. Alih-alih menghadapi ancaman banjir seperti tahun-tahun sebelumnya, wilayah ini justru dikepung oleh kebakaran hutan dan lahan. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius bagi petugas di lapangan karena lonjakan titik panas terjadi justru di tengah periode yang seharusnya menjadi puncak musim hujan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, mengungkapkan bahwa situasi saat ini berada di luar prediksi dan pola tahunan. Biasanya, bulan Januari identik dengan curah hujan tinggi yang bahkan sering kali memicu luapan air di berbagai kecamatan. Namun, data terkini menunjukkan fakta sebaliknya, di mana minimnya hujan dalam beberapa pekan terakhir telah menyebabkan vegetasi dan lahan gambut mengering dengan sangat cepat.
Kondisi lahan yang gersang membuat api sangat mudah tersulut dan merambat secara serentak. Dalam satu hari saja, laporan kebakaran muncul hampir bersamaan di beberapa titik strategis seperti Jalan Bawi Jahawen, Jalan Robby, hingga wilayah Desa Luwuk Bunter. Kehadiran api yang muncul secara simultan di lokasi yang berbeda ini menjadi tantangan berat bagi tim pemadam di lapangan dalam melakukan upaya lokalisir api.
Catatan BPBD menunjukkan bahwa sepanjang Januari 2026 telah terdeteksi sebanyak 54 titik panas di Kotawaringin Timur. Angka ini tercatat sebagai yang tertinggi jika dibandingkan dengan periode Januari pada tiga tahun sebelumnya, yakni 2023 hingga 2025. Teranyar, pantauan satelit menangkap adanya tujuh titik panas yang tersebar di lima kecamatan, dengan tingkat kepercayaan tinggi yang menandakan potensi kebakaran aktif sedang berlangsung.
Multazam menilai bahwa anomali cuaca ini telah berdampak signifikan pada penurunan muka air tanah dan menyusutnya cadangan air di berbagai drainase primer maupun sekunder. Faktor alamiah ini memperburuk risiko kebakaran meski tahun baru saja dimulai. Oleh karena itu, otoritas terkait mengeluarkan imbauan keras kepada masyarakat dan aparat desa agar tetap waspada dan berkomitmen penuh untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar guna mencegah bencana kabut asap yang lebih luas. (oes)
Editor : Indra Zakaria