SAMPIT – Masyarakat Kota Sampit dalam beberapa hari terakhir mulai merasakan dampak dari meningkatnya aktivitas kebakaran lahan. Kabut asap tipis disertai bau menyengat mulai tercium, terutama pada waktu malam hari, yang memicu kekhawatiran akan kembalinya musim kemarau ekstrem.
Warga Jalan Kapten Mulyono, Supriadi, mengeluhkan bau asap yang sangat tajam bahkan hingga merasuk ke dalam rumah sejak waktu magrib. Menurutnya, aroma asap kali ini berbeda dengan pembakaran rumput biasa yang sering dilakukan petani. Ia merasakan suasana saat ini sudah menyerupai puncak musim kemarau, meskipun masih berada di awal tahun.
Menyikapi kondisi yang kian mengkhawatirkan, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2026. Status ini berlaku selama 30 hari, terhitung sejak 23 Januari hingga 21 Februari 2026.
Penjabat Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, menjelaskan bahwa langkah ini diambil setelah terpantau adanya lonjakan titik panas (hotspot) yang cukup signifikan. Berdasarkan data BMKG dan BPBD, tercatat sebanyak 61 titik panas telah muncul sepanjang bulan Januari ini. Penetapan status siaga diharapkan dapat memperkuat koordinasi antarinstansi dalam melakukan pencegahan dan penanganan di lapangan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menambahkan bahwa kondisi lahan di wilayah perkotaan saat ini masuk dalam kategori sangat mudah terbakar. Hal ini diperparah dengan penurunan muka air tanah yang cukup drastis, yakni mencapai minus 35 hingga 40 sentimeter. Penurunan ini menyebabkan cadangan air di kanal-kanal penampung atau ring drain di wilayah MB Ketapang dan Baamang menyusut tajam.
Pihak BPBD menegaskan larangan keras bagi masyarakat untuk membuka lahan dengan cara membakar. Kecepatan angin yang saat ini mencapai 7–10 kilometer per jam dinilai sangat berbahaya karena dapat memperluas kobaran api dengan cepat. Hingga saat ini, tercatat sudah ada delapan kejadian kebakaran lahan besar, termasuk tujuh titik di Desa Ujung Pandaran yang menjadi perhatian serius petugas.
Pemerintah berharap masyarakat tidak memanfaatkan cuaca kering ini untuk aktivitas pembakaran, mengingat terbatasnya sumber air di beberapa titik rawan yang dapat menyulitkan petugas melakukan pemadaman jika terjadi kebakaran luas. (oes)
Editor : Indra Zakaria