Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sungai Mentaya Darurat Racun: Dari Hulu ke Hilir, Biota Air Terancam Punah

Redaksi Prokal • 2026-01-30 16:00:00
Sungai Mentaya, Sampit, Kotawaringin Timur. (oes / Radar Sampit)
Sungai Mentaya, Sampit, Kotawaringin Timur. (oes / Radar Sampit)

SAMPIT – Praktik peracunan udang dan ikan di sepanjang aliran Sungai Mentaya, Kabupaten Kotawaringin Timur, kian merajalela dan memicu keresahan luas di kalangan masyarakat. Aksi perusakan lingkungan ini dilaporkan terjadi secara masif, mulai dari wilayah Tangar Saka 2, Muara Kenyala, hingga merambah ke wilayah hilir seperti Desa Bagendang. Fenomena ini dinilai bukan lagi sekadar pelanggaran hukum, melainkan bentuk kerakusan manusia yang mengancam keberlanjutan ekosistem sungai.

Rahmat Hidayat, salah seorang warga yang mengamati kondisi ini, mengungkapkan kekecewaannya pada Jumat (30/1/2026). Menurutnya, hampir tidak ada lagi wilayah perairan di sepanjang Mentaya yang aman dari sebaran racun. Dampaknya sangat fatal; tidak hanya udang dan ikan besar yang mati, tetapi seluruh biota air kecil juga ikut musnah, sehingga mencemari perairan yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat.

Menyikapi laporan yang terus membanjiri, Kepala Dinas Perikanan Kotim, Ahmad Sarwo Oboi, kembali mengeluarkan larangan keras terhadap segala bentuk illegal fishing, baik dengan cara meracun, menyetrum, maupun menggunakan bahan kimia berbahaya lainnya. Ia menegaskan bahwa perairan umum di Kotim memiliki potensi sumber daya yang sangat besar, namun semua itu akan sia-sia jika dirusak oleh segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab.

Dampak dari peracunan ini sangat kompleks. Selain menghancurkan ekosistem dan mengancam kesehatan masyarakat yang mengonsumsi air sungai, praktik ilegal ini mulai memicu konflik sosial antar-desa. Rusaknya wilayah tangkapan bersama akibat racun seringkali menimbulkan ketegangan antar-nelayan tradisional yang kini kesulitan mendapatkan hasil tangkapan di wilayah yang sudah tercemar. (*)

Editor : Indra Zakaria