PROKAL.CO- Nasib malang seolah tak henti merundung Angga Hasibuan. Petugas keamanan perkebunan kelapa sawit di Kotawaringin Timur ini kini terbaring kritis di rumah sakit akibat pembacokan brutal pada Rabu malam (4/2/2026). Namun, siapa sangka jika tragedi ini merupakan kali kedua nyawanya terancam di ujung senjata para pencuri sawit dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Angga seolah menjadi saksi hidup betapa beringas dan terorganisirnya aksi kriminalitas di area perkebunan saat ini.
Menilik ke belakang, catatan kelam pertama Angga terjadi pada April 2025 di lokasi yang hampir sama. Kala itu, ia menjadi korban penembakan oleh dua pria misterius yang tidak terima sepeda motor rekan mereka diamankan tim patroli. Tanpa banyak bicara, salah satu pelaku melepaskan tembakan menggunakan senapan jenis PCV yang tepat mengenai paha kanan Angga. Meski sempat pulih dan kembali bertugas demi menafkahi keluarga, "keberanian" Angga harus dibayar mahal saat ia kembali berhadapan dengan parang tajam milik pencuri berinisial Iy di Desa Tumbang Boloi pekan ini.
Rentetan kekerasan yang dialami Angga menegaskan sebuah realitas pahit: aksi pencurian tandan buah segar (TBS) sawit di wilayah tersebut telah bergeser dari sekadar pencurian biasa menjadi kejahatan yang sangat brutal. Para pelaku kini tidak lagi melarikan diri saat tepergok, melainkan berani balik menyerang petugas dengan senjata mematikan. Nyawa petugas keamanan kini menjadi taruhan di setiap jengkal patroli yang mereka lakukan di tengah rimbunnya pohon sawit.
Iwan, salah satu rekan korban, mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas keselamatan Angga dan rekan-rekan seprofesinya. Ia menilai para "garong" sawit ini semakin tidak terkendali dan seolah tidak gentar dengan hukum. "Kami takut kejadian seperti ini terulang lagi. Jangan sampai nanti nyawa dia benar-benar hilang," cetusnya dengan nada getir. Desakan pun mengalir deras agar aparat penegak hukum tidak hanya menangkap pelaku pembacokan kali ini, tetapi juga membongkar jaringan di balik layar yang membuat para pencuri ini begitu berani dan bersenjata.
Kini, sementara Angga berjuang untuk pulih di RSUD dr. Murjani Sampit, publik menanti ketegasan dari Polres Kotawaringin Timur. Kasus ini menjadi alarm keras bagi kepolisian dan perusahaan untuk meninjau ulang standar pengamanan serta perlindungan hukum bagi para petugas di lapangan. Jika tidak ada tindakan tegas, dikhawatirkan profesi petugas keamanan kebun akan terus menjadi target "balas dendam" dari komplotan kriminal yang merasa bisnis ilegalnya terganggu. (*)
Editor : Indra Zakaria