SAMPIT – Nama Sampit kini tidak lagi sekadar menjadi penanda geografis di pesisir selatan Kalimantan, melainkan sebuah teka-teki sejarah yang mengundang perdebatan panjang. Di tengah masyarakat, berkembang sebuah versi menarik yang menyebutkan bahwa sebutan kota ini berakar dari istilah bahasa Cina, yakni "sam-it", yang secara harfiah berarti angka tiga puluh satu.
Munculnya versi ini tidak lepas dari jejak diaspora Tionghoa yang sangat panjang di kawasan tersebut. Kontak dagang antara masyarakat Cina dengan Borneo diyakini telah terjalin jauh sebelum abad ke-13. Komoditas berharga seperti hasil hutan, hasil laut, emas, hingga intan menjadi magnet utama yang menghubungkan kedua wilayah ini dalam jaringan perdagangan internasional purba.
Sejarah mencatat bahwa pemukiman warga Tionghoa di Sampit mulai terlihat signifikan sejak tahun 1847. Letak strategis kota di tepian Sungai Mentaya menjadikannya pelabuhan utama untuk aktivitas ekspor-impor di pantai selatan Borneo. Geliat ini semakin menguat pada era 1890-an saat industri perkebunan karet mulai mendominasi, di mana komunitas Tionghoa memegang peran kunci dalam distribusi barang kebutuhan pokok hingga sektor logistik penggergajian kayu pada tahun 1940-an.
Namun, narasi "sam-it" ini bukan tanpa tandingan. Sebagian kalangan memiliki pandangan berbeda yang lebih condong pada faktor geografis. Mereka meyakini bahwa nama Sampit lahir dari kata "sempit", yang merujuk pada karakter sungai atau wilayah tertentu di kawasan tersebut yang memiliki ruang terbatas atau menyempit. Perbedaan tafsir ini tetap bertahan hingga kini karena minimnya kajian mendalam mengenai sejarah komunitas di wilayah Kalimantan Tengah.
Meskipun asal-usul pastinya masih menjadi misteri, kontribusi diaspora Tionghoa bersama masyarakat Dayak, Melayu/Banjar, dan Jawa telah membentuk fondasi Sampit sebagai kota dagang yang heterogen. Interaksi lintas budaya ini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Sampit yang tumbuh pesat hingga masa akhir kolonial pada 1942, membuktikan bahwa sejarah sebuah kota sering kali terbentuk dari jalinan banyak bangsa dan cerita. (*)
Editor : Indra Zakaria