Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Predator Mentaya Mengintai Dermaga: Buaya Lima Meter Teror Aktivitas Subuh Warga Sampit

Redaksi Prokal • 2026-03-04 15:25:00

ilustrasi
ilustrasi

SAMPIT – Keheningan dini hari di pinggiran Kota Sampit kini berubah menjadi ketegangan. Warga yang bermukim di sekitar Jalan Iskandar 30, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, mulai dihantui kecemasan menyusul kemunculan berulang seekor buaya muara berukuran raksasa di kawasan Dermaga H Ali, Selasa (3/3) pagi.

Predator yang diperkirakan memiliki panjang lebih dari lima meter tersebut dilaporkan semakin berani mendekati area padat aktivitas. Dermaga H Ali sendiri merupakan titik krusial bagi denyut ekonomi warga, tempat bersandarnya perahu-perahu pengangkut pupuk dan logistik. Tak jarang, para buruh angkut dan warga setempat masih mengandalkan sungai tersebut untuk mandi dan mencuci, terutama saat hari masih gelap.

Zainuri, salah satu warga setempat, mengaku melihat langsung penampakan sang predator saat fajar menyingsing. Menurutnya, buaya tersebut kerap terlihat mendekati tumpukan sampah yang mengapung di sungai.

"Subuh tadi muncul lagi di dekat pelabuhan. Memang sering sekali terlihat di kawasan situ. Kami hanya bisa berharap tidak ada korban jiwa," ungkapnya dengan nada penuh kekhawatiran.

Keresahan kian memuncak saat muncul dugaan bahwa buaya tersebut menjadikan kolong dermaga sebagai tempat persembunyiannya. Andi, warga yang rumahnya tepat berada di belakang pelabuhan, mendapatkan laporan dari penjaga malam bahwa buaya tersebut sempat terekam kamera sedang menyantap bangkai ayam yang hanyut di bawah dermaga.

"Kami khawatir karena buayanya besar sekali dan kemungkinan berada tepat di bawah pelabuhan. Sementara di sini buruh dan ABK sering mandi di sungai, bahkan ada yang mandi malam-malam," kata Andi.

Merespons teror tersebut, Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan keresahan warga. Mengingat tingginya risiko konflik antara manusia dan satwa dilindungi tersebut, BKSDA berencana segera memasang spanduk peringatan di sepanjang jalur tersebut.

"Aktivitas warga di pelabuhan sangat tinggi. Kami mengimbau agar masyarakat lebih waspada dan sebisa mungkin mengurangi aktivitas di tepi sungai, terutama pada malam hari hingga menjelang subuh saat buaya lebih aktif mencari makan," tegas Muriansyah.

Fenomena buaya yang mulai "nongkrong" di area pemukiman ini menjadi sinyal bahaya bagi warga Sampit. Tumpukan sampah organik dan bangkai di sungai diduga menjadi daya tarik utama yang menyeret sang predator dari arah hilir menuju jantung kota, menciptakan ancaman nyata di balik tenang alur Sungai Mentaya. (*)

Editor : Indra Zakaria