Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sampit Waspada! Inflasi Tembus 5,15 Persen, Tertinggi dalam Dua Tahun Terakhir

Redaksi Prokal • 2026-03-07 11:15:00

Suasana jual beli pasar tradisional di Sampit saat malam hari. (Dokoes/ Radar Sampit)
Suasana jual beli pasar tradisional di Sampit saat malam hari. (Dokoes/ Radar Sampit)

 

SAMPIT – Tekanan ekonomi mulai dirasakan warga Kota Sampit pada awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur merilis data mengejutkan yang menunjukkan laju inflasi year-on-year (y-on-y) pada Februari 2026 menyentuh angka 5,15 persen. Angka ini tercatat sebagai titik tertinggi dalam dua tahun terakhir, memicu kekhawatiran akan daya beli masyarakat di Bumi Habaring Hurung.

Kepala BPS Kotim, Eddy Surahman, mengungkapkan bahwa lonjakan ini terlihat jelas dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang melompat ke angka 109,79 dibanding periode yang sama tahun lalu. "Secara umum inflasi Februari 2026 di Sampit terjadi karena kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran," ujar Eddy dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).

Sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi "biang kerok" utama dengan kenaikan fantastis mencapai 16,91 persen. Tak hanya itu, perawatan pribadi dan jasa lainnya juga merangkak naik sebesar 15,80 persen. Eddy merinci beberapa komoditas yang paling mencekik kantong warga. "Komoditas yang dominan memberikan andil antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, beras, serta makanan olahan seperti ikan bakar dan nasi lauk," jelasnya.

Meski kelompok makanan dan minuman ikut menyumbang inflasi sebesar 3,71 persen, ada sedikit kabar baik dari sektor transportasi. Kelompok ini justru mengalami deflasi atau penurunan harga sebesar 0,65 persen. "Di sisi lain, kelompok transportasi mengalami deflasi yang dipengaruhi oleh penurunan harga bensin," tambah Eddy.

Kondisi tahun 2026 ini berbanding terbalik dengan Februari 2025 yang saat itu Sampit justru menikmati deflasi sebesar 0,11 persen. Kenaikan tarif listrik dan harga pangan yang fluktuatif kini menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga, terutama memasuki bulan-bulan penuh aktivitas keagamaan yang biasanya memicu permintaan tinggi. (*)

Editor : Indra Zakaria