TAK banyak yang tahu karena memang masih proses awal. Tapi agaknya nanti akan menjadi perhatian bahwa Berau menjadi pilihan lokasi pembuatan film layar lebar berjudul “Hati Borneo”.
Ada dua yang dikerjakan saat ini. Pencarian lokasi sekaligus pencarian pemain. Tiga bulan lalu, ada empat kru bertamu di rumah saya. Mereka bercerita soal rencana pembuatan film layar lebar. Langkah apa yang harus ditempuh, sehingga bisa mendapat dukungan penuh masyarakat.
Saya cukup paham pekerjaan seperti ini punya mobilitas tinggi. Butuh stamina luar biasa, biaya yang tidak sedikit, keseriusan, kehati-hatian, kesabaran, ketajaman melihat detail, wawasan, dan tentunya butuh sponsorship.
“Hati Borneo”, saya pernah mendengar dua kata ini sejak lama. Ketika banyak daerah seakan berlomba membuat Tagline. “Hati Borneo” salah satunya yang sering dimunculkan. Gambaran potensi daerah, gambaran lingkungan hidup, gambaran objek wisata, juga gambaran bagaimana denyut nadi kehidupan itu. Barangkali inspirasinya dari situ. Walaupun belum pernah membaca sinopsis film tersebut, tapi sepintas bahwa misi yang diemban sebagai tagline untuk mempromosikan wisata di beberapa daerah di Kalimantan Timur. Juga dengan memberi alur cerita sebuah drama percintaan.
Apapun nanti ide ceritanya, kehadiran kru “Hati Borneo” di Berau perlu diapresiasi. Sebab ini jadi momen pertama. Dimana, daerah ini menjadi salah satu pilihan setting. Para kru tersebut sudah melakukan perburuan lokasi di Pulau Maratua, Kampung Bena Baru, Kecamatan Sambaliung, juga beberapa titik di daerah aliran sungai Kampung Birang, Kecamatan Gunung Tabur.
Hari Minggu (17/2) lalu, saya sempat mengunjungi kru yang tengah melakukan casting beberapa pemain pendukung. Lokasinya di Keraton Sambaliung. Sang Sutradara, Irwan Siregar bersama krunya tengah duduk di teras keraton. Duduk di teras keraton bisa sambil menyaksikan pemandangan Sungai Kelay dan kawasan sekitar keraton.
Sepanjang yang saya tahu, saya ceritakan banyak hal sekitar keraton. Termasuk dua pilar berwarna kuning bertuliskan aksara bugis (Lontara). Tapi itu kisah hanya permukaan. Di Sambaliung, banyak kerabat keraton yang bisa dijadikan narasumber untuk bercerita. Dan itu wajib dilakukan agar pengambilan gambar lebih lengkap.
Menurut Irwan Siregar, kemungkinan setelah pengambilan gambar di Kutai Kertanegara dan Samarinda, akan memulai pengambilan gambar di Berau pada pertengahan Maret nanti. Seluruh perlengkapan akan diangkut ke Berau termasuk ke Pulau Maratua. “Ini yang butuh dukungan sponsorship,” kata Irwan.
Di sela-sela pembicaraan, tiba-tiba muncul ide sang sutradara untuk mengajak saya ikut berperan dalam film tersebut nanti. Ada satu peran yang katanya cocok. Entah, cocok pada usia, gestur atau karena latar belakang saya juga pernah aktif berteater sehingga tak perlu banyak polesan lagi. Saya tidak mengiyakan, masih pikir-pikir.
Bisa saja kelak akan saya iyakan, bisa juga saya menawarkan peran itu ke pemain lainnya. Sebab, ikut bekerja dalam penggarapan sebuah film, harus total. Mengerahkan semua tenaga dan pikiran maupun perasaan. Terlepas soal itu, “Hati Borneo” perlu didukung agar berjalan lancar. Sehingga target pengambilan gambar hingga proses editing tepat waktu. Dan Launching film ini sesuai skedul yang sudah dibuat. Saya juga terus berpikir apakah tawaran peran itu bisa saya terima, dan mampukah saya jalankan sesuai skenario bila kelak tawaran itu saya terima.(*/asa)
Editor : uki-Berau Post