TANJUNG REDEB - Sejumlah program prioritas yang disampaikan oleh kepala kampung pada Musrenbang di tingkat Kecamatan Sambaliung, diharapkan Anggota Komisi II DPRD Berau, Elita Herlina dapat terealisasikan.
“Saya juga sepakat dari yang disampaikan bupati, bahwa kita memperhatikan infrastruktur dasar. Terutama pendidikan, yang kaitannya dengan SDM. Tak ketinggalan juga dari segi kesehatan,” ujar Elita, kemarin (9/3).
Di antara kepala kampung yang menyampaikan usulannya, ada yang meminta dibangunkan sekolah dasar. Seperti yang disampaikan dari Kampung Long Lanuk. Dirinya pun turut memberikan penguatan, bahwa SD yang dimaksud dibangun sudah sejak tahun 1982. Jadi memang dinilai sangat dibutuhkan sekali, jika menghitung sampai tahun 2023, tentu usia SD ini sudah berdiri 41 tahun.
“Nah ini saya harap sangat menjadi perhatian dan perlu direspons segera untuk dapat bisa direalisasikan. Apalagi lahannya sudah siap, jadi dalam hal ini perusahaan sudah berkontribusi untuk pematangan lahannya,” jelasnya.
Kemudian, pembangunan SD yang disampaikan dari pihak Kampung Suaran diterangkannya memang anak-anak warga setempat sangat jauh ketika bersekolah. SD itu sendiri untuk bangunannya sudah siap pakai, tetapi tenaga pengajar di sana belum ada. Sehingga hal ini pun ditegaskannya perlu juga menjadi perhatian.
“Karena bagaimana pun, suatu daerah tidak akan sejahtera ketika juga pendidikannya itu adalah tidak kita perhatikan,” tegasnya.
Pada Musrenbang itu juga, Elita menyoroti pada sektor kesehatan. Salah satunya yang disampaikan dari Kampung Tanjung Perangat, yang dia nilai sangat membutuhkan hadirnya Puskesmas Induk, nantinya akan melayani dua kampung lainnya juga yakni Sukan dan Gurimbang. Untuk mengenai lahannya sendiri pun diakui sudah siap. “Jadi siap untuk dibangun,” ungkapnya.
Di sisi lainnya lagi, Elita menyebut terkait sektor pertanian secara luas. Karena itu sebagai salah satu sektor daerah sebagai penyumbang DBRD terbesar setelah sektor tambang. Terlebih ada pesan dari Mendagri, bahwa daerah diharapkan untuk berinovasi untuk menggali potensi-potensi PAD yang maksimal.
“Jadi harapan bahwa daerah itu kemampuan psikolnya bisa maksimal. Jangan tergantung sepenuhnya dengan pusat. Karena kita akui memang bahwa hampir semua kabupaten tergantung dari dana bagi hasil dari pusat,” bebernya.
Namun hal itu perlu didukung dengan infrastruktur dasar seperti jaringan telekomunikasi yang disebut masih belum optimal, termasuk air bersih juga masih belum maksimal, serta jalan yang juga masih perlu ada lanjutan peningkatan. Sehingga hal-hal itu juga perlu menjadi perhatian bersama, baik Pemkab Berau dan DPRD.
“Jadi sektor pertanian juga kita dorong secara luas. Harapan kita juga kampung-kampung ini mempunyai wisata, kemudian kewirausahaan untuk berinovasi. Jadi kampung-kampung ini menggali potensinya apa yang sekiranya dapat meningkatkan PAD kampung sehingga berdampak pada PAD kita,” jelasnya.
Di samping itu, Elita juga menyoroti terkait dengan lahan yang sudah beralih fungsi ke lahan perkebunan menjadi tanaman sawit. Memang tak bisa juga dimungkiri, karena petani sawit ini menjanjikan. Harapannya tentu menjadi perhatian, jangan sampai nanti malah tidak mempunyai sawah. Sedangkan komitmen pemerintah bahwa ASN sekarang diharuskan mengkonsumsi beras lokal.
“Salah satu contoh saya menyoroti Kampung Sukan Beribit. Di sana terdapat Bendungan Beribit yang dibangun tahun 2003 menggunakan anggaran pusat, namun sampai sekarang tidak bisa difungsikan,” ungkapnya.
“Dulunya untuk mengairi tiga kampung yakni Gurimbang, Tanjung Perangat dan Sukan. Anggarannya memang cukup besar, tetapi sampai sekarang belum bisa difungsikan. Mestinya hal itu bisa dinikmati oleh para petani,” sambungnya.
Untuk itu sebutnya, jangan heran kalau para petani ketika beralih ke perkebunan. Bagaimana mau nanam padi kalau tidak ditunjang oleh adanya irigasi. Sehingga Elita meminta agar dikaji kembali terkait Bedungan Beribit ini. “Karena harapan kita juga tiga kampung ini bisa menjadikan lumbung pangan, selain dari Semurut,” katanya.
Elita berharap dari OPD terkait agar bisa menginventarisir kampung-kampung yang merupakan lumbung pangan. Salah satu contoh disebutnya Trans Sambaliung yang sudah sangat luar biasa sawahnya. Tetapi belum terakomodir memang terkait dengan padinya, sehingga menjadi perhatian bersama dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan beras lokal.
“Melalui Musrenbang ini, usulan prioritas dari kepala kampung untuk dapat direalisasikan sehingga Musrenbang tahun berikutnya tidak ada lagi usulan yang sama disampaikan kepala kampung,” tutupnya. (mar/adv/sam)
Editor : uki-Berau Post