Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Gali Dirantau

uki-Berau Post • 2023-06-27 15:24:56
-
-

SAYA bersyukur. Beberapa minggu lalu, saya mendapat kabar kalau salah seorang seniman sedang dirawat di rumah sakit. Hari Senin (26/6) kemarin, kami bertemu di warung pojok.

Menjelang siang baru berkunjug ke warung. Selalu terbayang teh susu dan roti selainya. Belum lagi mi kuah yang disajikan panas-panas, ditambah telur dadar. Mi kuah disantap kapan saja, tetap nikmat. Tak kenal cuaca.

Hanya ada empat pengunjung warung yang duduk dekat meja kasir. Tadi pagi ramai pak, daeng, kata pemiliknya. Memang, pengunjung pagi itu sekitar jam 6 pagi. Kalau datang jam 10.00 wita, sudah mulai sepi. Tapi tidak pernah kosong sama sekali.

Yang duduk dekat meja kasir itu, yang membuat saya terkejut bercampur rasa syukur. Saya dipertemukan dengan seorang seniman yang sudah saya kenal sejak lama. Bahkan lama sekali. Kalau beberapa minggu lalu, ada foto sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Duduk dekat meja kasir, hanya minum air putih.

Alhamdulillah, kita bedapat lagi, kata saya sambil menyalami. Tatapan Pak Kamarudin tak banyak berubah. Senyumnya juga demikian. Alhamdulillah, sakit sudah banyak perubahan, kata dia. Saya ditangani dokter spesialis, anaknya Pak Muin Kallu, tambahnya.

Saya tidak terlalu panjang membicarakan tentang penyakitnya. Sekilas saja, lalu saya berbicara hal lain. Setelah teman ngobrolnya lebih dulu pulang, Pak Kamaruddin, berpindah ke meja di kami duduk.

Pak Kamaruddin itu sebelum pensiun, dia bekerja di perusahaan BUMN PT Inhutani. Di kalangan keluarga besarnya, Pak Kamaruddin dikenal semuanya aktif berkesenian. Sejak sakit, Ia tak bisa lagi memainkan alat tiup. Paling gambus dan gitar saja, kata Kamaruddin.

Dari Sekian bersaudara, punya keahlian masing-masing dalam memainkan alat musik. Ada yang memainkan saksofon dan biola.  Ada yang memegang drum dan bass. Karenanya, grup sekeluarga ini sering diundang Pak Makmur, main di kediamannya khusus irama keroncong.

Ada juga salah seorang keluarga Pak Kamaruddin, namanya Endang. Dia sudah almarhumah, juga pandai memainkan biola dan vokalis. Sebetulnya, saya juga bisa seperti mereka. Sayangnya, setelah sekian belas tahun akrab, tak pernah tertular menguasai satu alat musik. Haha.

Ada berapa lagu yang sampean ciptakan, tanya saya. Ia menghitung dengan jarinya, lalu berhenti pada hitungan 10. Rasanya ada sepuluh lagu ciptaan saya, Pak Daeng, kata Kamaruddin.

Dari 10 lagu itu, lagu apa yang paling menonjol dan sering dinyanyikan orang. Baik di Berau maupun di luar Berau. Ia pun menyebutkan dua judul lagunya, yakni Batiwakkal dan lagu Gali Dirantau.

Lagu Gali Dirantau sering saya dengar. Sering saya nyanyikan, walau tak tuntas. Memang karena tidak menghafal seluruh syairnya. Apa maksudnya Gali itu ? Maknanya, kata Gali itu sama dengan pantangan. Dibanyak tempat di Berau, pantangannya beraneka rupa.

Makanya, ketika menciptakan lagu itu, melalui proses panjang. Saya merenung di setiap nama kampung yang saya sebutkan. Saya dulu merenung di salah satu kamp perusahaan di tepi sungai, kata dia. Dan, terciptalah lagu Gali Dirantau itu.

Tercatat sejumlah nama pencipta lagu Berau yang saya kenal. Sebutlah almarhum Odang Darmansyah, Saprudin Itur selain keluarga besar Pak Kamaruddin. Kenapa lagu-lagu sampean itu tidak dipatenkan dan dipopulerkan kembali? Itu menjadi tugas kantor yang mengurusi kesenian, kata dia.

Bersyukur, saya bisa bertemu dengan Pak Kamaruddin. Bersyukur bisa tahu, bagaimana proses Ia menciptakan lagu, walau hanya sekilas. Seandainya ada pihak yang memberi perhatian khusus pada kemajuan kesenian, dan juga pada para seniman, mereka tentu sangat berbahagia.

Saya tidak tahu, kapan lagi kesenian di Berau ini bisa bangkit, kata Pak Kamaruddin. Bisa jadi, itu harapan tersimpan di lubuk hatinya selama ini. Termasuk, harapan agar ada gedung yang di depannya bertuliskan Gedung Kesenian. Seperti yang pernah dijanjikan. (*/sam)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan