SAMARINDA - Geliat kasus kriminal terjadi, seolah pertanda ibu kota Kaltim tak aman. Terlebih sudah masuk tahun politik, diprediksi perputaran uang pun cukup besar. Ditambah, masih ada sejumlah pekerjaan rumah (PR) kasus yang urung terungkap.
Misyanto (33) hingga kemarin (24/1) masih terbaring lemah. Luka yang diterimanya, akibat pergumulan dengan pelaku perampokan sadis yang beraksi di Jalan Panglima Batur, Kelurahan Pelabuhan, Kecamatan Samarinda Kota, tepat di depan Hotel Jamrud 2. Bertaruh nyawa, demi Rp 600 juta, uang yang rencananya untuk mengembangkan bisnis keluarga itu, raib seketika. Mirisnya, tak ada yang membantu korban kejahatan jalanan tersebut ketika pelaku melancarkan aksinya.
Disinggung perihal adanya keterlibatan orang dalam, Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Sudarsono yang ditemui di ruang kerjanya kemarin menyebut, belum bisa memastikan. “Kan masih pengejaran. Semua yang berhubungan dengan uang, nantinya diperiksa,” tegas perwira melati satu tersebut. Sudarsono enggan bicara terkait persis kejadian di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jalan Ahmad Yani, Sungai Pinang. “Kalau analisis kalian seperti itu silakan. Kami berdasarkan fakta,” tegasnya.
Menyoal Samarinda tak aman, Sudarsono pun enggan bicara demikian. Pasalnya, angka laporan masyarakat terkait kriminalitas, jumlahnya masih di angka lebih dari seribu perkara. Sebanyak 1.753 gangguan keamanan ketertiban masyarakat (kamtibmas) terjadi sepanjang 2018 lalu. Menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai 2.477 laporan. Bahkan, pada 2016, berdasarkan Indonesia Research Center (IRC), Samarinda pernah menduduki peringkat kedua kota tak aman setelah Medan. Namun, tak sedikit pula kasus perampokan berhasil diungkap.
Perwira Polri yang lama bertugas di Bali itu menyebut, jajarannya di lapangan sudah berusaha maksimal mengejar pelaku. “Akses keluar Samarinda juga sudah diperketat,” sambungnya.
Meski dalam kondisi proses penyembuhan, Misyanto masih bisa diajak bicara. Kini dia dirawat di ruang Sakura RSUD AW Sjahranie. Dia menyebut, tak sempat melihat ciri-ciri pelaku, lantaran mengenakan penutup kepala. “Sempat tarik-tarikan, Pak,” ujarnya kepada polisi berpakaian sipil. Padahal, kondisi jalan sedang ramai saat itu. Namun, para pelaku yang mengenakan roda dua lihai meloloskan diri dari kejaran Misyanto. Sementara dia, sudah bersimbah darah akibat sabetan benda tajam. (*/dra/rsh/k18)
Editor : izak-Indra Zakaria