“Kerinduanku memuncak pada rabbaku
Kehidupanku menari diroda hatimu
Masihkah kau mencintaiku
Aku terjebak dalam ombak ditengah laut
Termenungku bersama paus
Akankah cinta terpaut
Hati luluh tak berbaut”
(Sajak Durjana).
Sajak Cinta Sang Durjana, garapan Naskah dan sutradara Rahmad Azazi Rhomantoro. Setelah sukses mementaskan di Taman budaya provinsi Kaltim April lalu, dengan kurang lebih seribu audience, kini pementasan itu digelar kembali di auditorium IAIN Sultan sulaiman Samarinda.
Menceritakan tentang seorang pria bernama Normanto yang diperankan oleh novan lany. Mas no, sebutan panggungnya, pikirannya berkecamuk karena berbagai masalah yang dihadapi. Ia adalah seorang mantan narapidana, dan dikucilkan oleh masyarakat, tak terkecuali keluarga dan orang yang paling dicintai, “Marwiyah”.
Meninggalnya Ibu tercinta, jatuhnya pujaan hati ke tangan lelaki lain,dan kasus pembunuhan dan perampokan yang membuatnya mendekam di balik jeruji besi.
Namun kini normanto sudah keluar dari tempat penuh ilusi tersebut. "jeruji besi". Namun rasanya, itu hanya berupa raganya saja.
Pikirannya seakan masih "dipenjarakan" oleh masalah-masalah yang menghantuinya.
Di bawah pohon tua, ia mencoba untuk terlelap. Mencoba untuk lari dan melupakan masalah-masalah yang telah dialaminya.
Namun di alam mimpi pun, mimpi dan imajinasinya menjadi satu, seakan menciptakan sosok-sosok yang mencoba untuk menyerang jiwanya yang sedang stress tingkat tinggi itu.
Sebut saja Sanusi, pria berperawakan tinggi dan kurus dengan nada bicara yang aneh. Sanusi adalah sosok surealis dalam pikiran normanto, seakan menertawakan dan mengejek Normantoro akan kemirisan hidupnya.
Datang pula sesosok nenek tua bijaksana, yang menasehati akan pentingnya kehidupan teologis dalam kehidupan dunia, ibadah sholat dan berserah diri pada Allah S.W.T. akan segala masalah yang Ia hadapi.
Muncul pula tiga sosok anak kecil, seakan mengejek normantoro yang tidak bisa mendapatkan Marwiyah di dalam dekapannya, Muncul pula sosok almarhumah sang Ibu, yang terus menyemangati nya untuk tetap hidup dengan bijak.
Normanto yang sangat merindukan sosok Ibunya hanya bisa menangis, sang Ibu yang sudah tidak bisa memberikan cintanya lagi padanya. Nasehat sang Ibu menusuk ke dalam relung hati Normantoro, bahwa kecintaan Ibu kepada anaknya tidak akan terpisah hanya karena kematian. Cinta akan terus ada jika tetap dikenang dan diingat untuk selamanya.
Muncul nya sosok Marwiyah ke dalam imajinasi, membuat dirinya seakan lemah dan tak berdaya. Menangisi kenyataan bahwa kekasih hatinya jatuh ke pelukan orang lain dan hidup bahagia.
Pohon tua nan rapuh itu menjadi saksi. Betapa imajinasi, halusinasi, hadir dalam benak pikiran dan yang mampu mengatasi hanyalah diri Normantoro sendiri.
Rayu Tuhan
Sendiri menyendiri aku
Di ruang sepi
Menanti Rindu
Bersama malam
Ku rayu tuhan ku
Dalam sajak cinta ku
Bersama imajiku
tebas asa
Yang hilang
Sajak sajak cintaku
Menari diatas imajiku
Bersama sahabatku
Melayang jauh
(Sajak Normanto untuk Tuhan dibawah pohon Rindang nan sepi)
Rahmad azazi yang juga merupakan dosen IAIN samarinda ini, menuliskan naskah berdasarkan keadaan fenomenologis yang terjadi kehidupan sekarang, ia menginginkan manusia zaman sekarang harus mampu berfikir terbuka dan memahami konteks sosial yang terjadi dalam bermasyarakat, sehingga mampu mengatasi masalah masalah kehidupan pribadi dengan pandangan yang lebih luas, hingga tercipta rasa saling memahami dan saling menghargai.
Samarinda 30 September 2019
Penulis rahmad azazi rhomantoro
Editor : izak-Indra Zakaria