Tanaman ini mekar setiap tahun. Di awal musim penghujan. Kuncup bunga muncul dari umbi, ketika mekar kelopak bunga senada dengan pucuk bunga berwarna ungu. Ini kali pertama bunga bangkai suweg mekar di Kebun Raya Balikpapan.
MARET lalu, salah seorang warga memberikan sebuah informasi. Di dekat rumahnya di Km 15, terdapat tanaman yang mengeluarkan bau yang menyengat. Sekilas tanaman tersebut mirip pohon pepaya. Bau bangkai tersebut membuat ia merasa terusik ketika hendak memanen buah di kebunnya.
Kepala UPTD Kebun Raya Balikpapan (KRB)Arrizal Rahman yang mendapat informasi tersebut segera mengutus timnya agar melakukan eksplorasi. Setelah diteliti tanaman tersebut tak lain Amorphophallus paeoniifolius. Atau disebut bunga bangkai suweg.
Tanaman kemudian diangkut menuju KRB. Batang pohon yang tinggi dipangkas kemudian ditanam ke dalam polybag. Sebagai bentuk penyelamatan dan menjaga kelestarian bunga langka tersebut. Kurang lebih setelah tujuh bulan lamanya, suweg pun mekar, Minggu (13/10) untuk kali pertama di KRB.
“Masa mekarnya bunga ketika musim hujan tiba. Kami bersyukur, saat itu (Maret) warga tidak menebang dan menginformasikan ke pihak KRB,” ucap Rizal.
Rafflesia dan bunga bangkai (suweg) sama-sama memiliki ukuran raksasa dibandingkan bunga umumnya. Juga mengeluarkan bau yang busuk. Tapi, antara raflesia dan suweg memiliki perbedaan pada klasifikasi biologi, bentuk, warna, cara hidupnya, dan siklus hidupnya.
Ciri utama yang membedakan rafflesia dengan bunga bangkai secara awam adalah bentuknya yang melebar (bukan tinggi) dan berwarna merah. Rafflesia merupakan bunga bermahkota lima. Berbentuk bulat diameternya bisa mencapai lebih dari 1 meter, dengan cekung ke dalam. Bunga rafflesia tidak memiliki akar, tangkai, maupun daun.
“Kalau rafflesia mekar dia melebar bulat, sedangkan bunga bangkai dia biasa punya mahkota ke atas seperti kuncup berukuran besar,” sebutnya.
Sedangkan suweg yang termasuk tumbuhan dari suku talas-talasan (araceae), tidak berbentuk bulat dan memiliki tinggi yang berbeda-beda. Rafflesia tidak dapat tumbuh di daerah lain, bunga bangkai dapat dibudi daya. Bila rafflesia parasit pada tumbuhan rambat, bunga bangkai tumbuh di atas umbi sendiri.
Dalam masa tumbuhnya, suweg mengalami dua fase yang muncul secara bergantian dan terus menerus, yaitu fase vegetatif dan generatif. Pada fase vegetatif, di atas umbi akan muncul batang tunggal. Tinggi pohonnya bisa mencapai enam meter.
Setelah layu, umbi pohon akan digantikan dengan tumbuhnya bunga bangkai. Tumbuhnya bunga yang menggantikan pohon yang layu inilah yang disebut fase generatif. “Kalau sekilas memang dikira orang pohon pepaya, padahal bukan,” ujarnya.
Serupa dengan rafflesia, bau busuk yang dikeluarkan suweg berfungsi untuk menarik kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Setelah masa mekarnya selama seminggu, bunga bangkai akan layu. Dan akan kembali melewati siklusnya, kembali ke fase vegetatif, dimana akan tumbuh pohon baru di atas umbi bekas bunga bangkai.
Rizal menuturkan, terdapat empat bunga bangkai suweg, tapi dari empat polybag yang ditanami baru satu yang mekar. Tiga lainnya akan mekar dalam kurun waktu satu hingga dua pekan ke depan. Bunga bangkai ini memiliki waktu mekar (siklus)yang singkat. Seperti halnya bunga anggrek hitam, bunga akan layu setelah lima hari hingga seminggu.
Selain suweg, terdapat pula jenis Amorphophallus borneensis. Merupakan bunga bangkai khas Kalimantan. Hanya saja kedua pohon yang ditanam belum kunjung berbunga. “Amorphophallus borneensis kami eksplorasi dari Gunung Ketam perbatasan Kaltim-Kalsel pada tahun 2011 lalu,” ungkapnya.
Suweg yang mekar memiliki batang berukuran 8,4 cm. Keliling bunganya mencapai 1,1 meter, sedangkan tinggi bunga 35 centimeter. Rizal mengungkapkan, bunga mekar sempurna pada pagi hari akhir pekan kemarin. Bunga berwarna merah keungu-unguan tersebut tidak memiliki aroma yang begitu menyengat.
Pengunjung yang ingin melihatnya bisa langsung menuju taman tematik Amorphophallus. Sudah empat hari bunga tersebut dipamerkan. Secara bergantian akan diganti ketika bunga telah layu. Dirinya juga menyebut, suweg sebenarnya endemik dan cukup banyak ditemukan di berbagai titik di Balikpapan. Selain di Km 15, terdapat pula di Km 38.
“Saya belum pernah menemukan orang membudidayakan suweg di luar KRB. Karena di habitat luar, banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa ini adalah bunga bangkai. Sehingga mereka hilang karena ditebang, di sini kami coba melindunginya karena bunga ini memang unik,” tandasnya. (lil/ms/k18)
Editor : izak-Indra Zakaria