Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Jadikan Hotel Grand Mutiara sebagai Rumah Sakit Satelit, RSUD Tunggu Keputusan Pemkot

izak-Indra Zakaria • 2020-10-12 10:44:47
RUMAH SAKIT SATELIT: Hotel Grand Mutiara yang sebelumnya bernama Oak Tree Hotel ini bakal dijadikan tempat perawatan bagi pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dengan gejala ringan atau OTG. ADIEL KUNDHARA/KP
RUMAH SAKIT SATELIT: Hotel Grand Mutiara yang sebelumnya bernama Oak Tree Hotel ini bakal dijadikan tempat perawatan bagi pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dengan gejala ringan atau OTG. ADIEL KUNDHARA/KP

Manajemen RSUD Taman Husada sudah cocok untuk menjadikan Hotel Grand Mutiara sebagai rumah sakit satelit. Persiapan tengah dilakukan, namun keputusan final ada di tangan Pemkot Bontang.

 

BONTANG–Penunjukan Hotel Grand Mutiara menjadi rumah sakit satelit RSUD semakin matang. Bahkan, pihak RSUD telah menyusun yang menjadi tugas mereka. Saat perawatan pasien terkonfirmasi positif dengan gejala ringan dan orang tanpa gejala (OTG) dilakukan di bangunan tersebut. 

Direktur RSUD Taman Husada dr I Gusti Made Suhardika mengatakan, telah melakukan rapat sebanyak tiga kali dengan Pemkot Bontang. Selepas rapat pertama, tim telah melakukan survei lapangan. Tujuannya, melihat lokasi dan kelayakan bangunan. “Hasil survei menunjukkan lokasi itu (Hotel Grand Mutiara) cocok dijadikan rumah sakit satelit,” kata dr Gusti.  

Namun, kepastian final bergantung pada Sekkot Bontang. Saat ini masih menunggu hasil negosiasi yang dilakukan pemkot dengan manajemen hotel. Sehingga belum bisa dipastikan kapan perawatan mulai dijalankan. “Intinya dari RSUD untuk struktur organisasi telah disusun. Pun demikian dengan kesiapan SDM tenaga kesehatan telah ditunjuk,” ucapnya. 

Berkaitan dengan limbah medis nantinya menjadi ranah RSUD. Tiap hari limbah akan dibawa menggunakan kontainer milik rumah sakit pelat merah tersebut. Limbah kemudian dihancurkan dengan sarana yang dimiliki di RSUD Taman Husada.  

“Limbah medis menjadi wewenang kami nantinya,” tutur dia. Begitu pula terkait pencucian atau laundry. Karena yang dirawat adalah pasien terkonfirmasi maka diperlukan perlakuan khusus. Sehingga kecil kemungkinan dipasrahkan ke manajemen hotel atau pihak ketiga. 

“Tentunya membutuhkan antiseptik. Supaya virus yang menempel di pakaian atau perlengkapan tempat tidur itu mati,” sebutnya. 

Selaras disinfeksi juga menjadi tugas manajemen yang terbentuk di struktur organisasi rumah sakit satelit tersebut. Minimal tiga hari sekali penyemprotan dilakukan. “Kalau ada pasien masuk sebelumnya tentu disemprot terlebih dahulu ruangannya,” terang dia.  

Sementara itu, penyediaan alat pelindung diri (APD) menjadi ranah Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Baik itu yang dipakai oleh tenaga kesehatan maupun karyawan hotel. Terutama saat ada perbaikan sehubungan kerusakan fasilitas penunjang bangunan. 

“Tetapi kami meminta sebelum pasien masuk untuk dilakukan pengecekan. Sehingga tidak ada perbaikan saat di dalam ruangan ada pasien. Semuanya harus sudah siap,” pintanya.  

Pembiayaan perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit satelit menjadi tanggungan pemerintah pusat. Dalam hal ini, Kementerian Kesehatan. Akan tetapi, besarannya terdapat perbedaan. Kondisi ini tidak menjadi permasalahan oleh manajemen RSUD. Mengingat, mereka telah ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan yang menangani pasien Covid-19. 

“Nominalnya yang dibayar 60 persen dibandingkan pasien dirawat di RSUD Taman Husada. Kami harus menjalaninya, tidak masalah,” pungkasnya. (*/ak/rdh/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria