PAGI buta di dusun kaki Gunung Semeru, bahkan kokok ayam jantan pun belum berbalas. Dedaunan jati dan pinus serta rumput liar yang melingkari dusun di kaki bukit itu masih ditempeli butiran embun yang kemilau. Udara dingin menusuk-nusuk kaki-kaki tua berurat menonjol dengan tapak kapalen tanpa alas. Ia menanti bayangan jarik merah dengan kemben hitam itu beranjak hilang dengan delman dan kuda hitamnya masih mengantuk. Lonceng kalung kuda itu gemerincing mencoba mengejutkan Sang Tuan, sehingga netranya tiba-tiba membelalak ketika berada pada tikungan pepohonan. Delman menghilang, lambaian dara berkemben hitam dan jarik merah itu pun menghilang. Embun dari sisi hutan pun menguap oleh pagi yang mengiringi senyum cerahnya sang matahari. Embun itu kini melekat pada sepasang mata penuh guratan yang pupilnya mengecil dan rabun dimakan usia.
“Aku akan merindukan Jamilah …” sedunya pada bahu tangan di sebelahnya.
Lelaki yang memiliki mahkota putih ditutupi setengger peci hitam, layu bungkuk memapah kekasih hatinya yang hampir pingsan dalam pelukan. Lalu lamat-lamat mereka memasuki gubuk bersulam bambu dengan atap rumbia. Di sebelah rumah itu terdengar lenguhan sapi kurus kering yang baru saja melepas kantuk, satu-satunya harta mereka yang tersisa. Gadis berjarik merah itu memang nekat, ia menolak dikawinkan dengan rentenir yang memang lebih pantas menjadi ayahnya ketimbang menjadi suaminya. Lelaki paruh baya yang pada musim panen tahun lalu meminjami orangtuanya Rp 2 juta untuk biaya rumah sakit Abah.
Mereka memang belum mampu mengembalikan, padahal pinjaman sudah berbunga serta beranak-pinak. Jantala yang telah memiliki dua istri itu meminta Jamilah sebagai tebusan, tentu saja Jamilah tidak mau. Ia memilih pergi ke kota dan mencari pekerjaan agar Mbok Pinah yang masih buruh tani si Tuan Tanah rentenir terlepas dari jebakan lintah darat. Sementara Abah semakin parah saja asmanya, di hidungnya wewangian daun berembun agar tak terdengar ringkihan paru-parunya di depan Mbok Pinah yang terus tersedu menangisi Jamilah.
“Mbok … aku akan mengganti kalung yang Mbok berikan ini berkali-kali lipat. Aku akan kumpulkan rezeki halalku untuk Mbok dan Abah.”
Terngiang kata-kata Jamilah tengah malam tadi saat Mbok Pinah mengalungkan emas 23 karat pada leher Jamilah. Bukan, bukan kalung itu yang paling berharga, melainkan anak perempuan bermata kejora yang bercita-cita menjadi kepala dusun. Jamilah bukan gadis biasa, tangannya paling lincah memanen padi dengan ani-ani dan hatinya setegar karang di lautan. Jiwa penolongnya membuat gadis yang tak gampang dimiliki lelaki itu bagaikan malaikat. Kesalahannya cuma satu, terlalu “apikan” dan begitu polos. Mbok Pinah begitu tersentak takut, mengingat hal itu, sangat mungkin orang-orang kota melahap kepolosannya. Ingin rasanya Mbok Pinah mengiringi kepergiannya, tapi Abah, Abah tak kuat berjalan sejauh itu, bisa-bisa kumat di jalan.
***
Delman Jamilah terus menyusuri lereng Gunung Semeru dan telah mencapai jalan utama. Kusir Suparta menghentikan kuda hitamnya yang teramat letih, memberi minum kuda dengan menimba air kali, lalu berhenti duduk di pinggir rerumputan menunggui bus yang akan lewat. “Kamu mau ke mana to sebenere, Nduk?” tanya kusir Suparta sembari mengisap tembakaunya dalam-dalam. Kuda hitamnya masih asyik menyeruput jamuan, air dan rumput segar.
“Jakarta. Aku dengar di sana banyak pekerjaan buat kaum muda seperti aku. Jadi pembantu dulu pun tak apa.”
Bus yang dinanti tiba. Kusir Suparta mengangkatkan tas kresek merah berisi beberapa helai pakaian Jamilah ke atas bus.
Sebuah bangku kosong nomor empat dari belakang sopir bus ditempati oleh Jamilah, dipeluknya erat-erat sekresek pakaian dan sebungkus tiwul dari Mbok Pinah. Di perjalanan dia sempat tertidur. Tiba-tiba seorang lelaki telah duduk di sampingnya, padahal tadinya tempat duduk itu diisi seorang perempuan setengah baya.
“Oh, penumpang sebelahku sudah berganti saat aku tertidur tadi,” pikir Jamilah. Lelaki di sebelahnya dengan jaket tebal dan kacamata mengajaknya berbincang-bincang.
“Mau ke mana, Mbak e?”
“Mau ke ibu kota, cari kerja Pak”
“Siapa namanya?”
“Namaku Jamilah.”
Laki-laki itu tersenyum dengan dahi yang sedikit ke atas dan seketika menatap Jamilah lekat-lekat. Rambutnya cepak dan jaketnya kulit cokelat perlente. Kacamata hitam tak pernah dilepasnya sepanjang perjalanan.
”Ja-mi-lah? Whew … kebetulan, Mbak.”
“Kebetulan apa ya Pak?”
“Saya mencari pegawai wanita, untuk ditempatkan di asrama wanita, tugasnya bantu-bantu membersihkan asrama sekaligus masak kalau bisa. Kamu bisa masak?”
“He he.... Injih bisa Pak... kalau cuma jangan lodeh, nyayur bening atau sop-sopan saya bisa,” jawab Jamilah malu-malu.
“Aih cocoklah kalau begitu. Saya suka jangan lodeh. Asal jangan kau permainkan aku,” Laki-laki itu tertawa dan Jamilah manggut-manggut tersenyum.
Lelaki itu tampak tersenyum puas, sesekali ia membuka sebuah buku, lalu kembali menoleh pada Jamilah, “Jadi bagaimana, kamu mau kerja di asrama wanita?”
Jamilah terheran-heran atas keberuntungan yang terlalu cepat ini. Belum sampai ke ibu kota, baru di separuh perjalanan dia sudah mendapatkan pekerjaan. Gadis itu berbinar-binar dan mengangguk dengan senyum semringah.
“Injih Pak, terima kasih. Saya mau pekerjaan itu, asalkan halal pasti mau!” ujar Jamilah bersemangat.
Jamilah belum sampai ke ibu kota. Lelaki itu sudah mengajaknya turun dari bus di hampir tiga perempat jalan menuju Jakarta.
“Bapak... saya kira ini belum sampai ibu kota,” ucap Jamilah sembari menebar pandangan ke sekelilingnya.
“Memang belum, Mbak. Kita di sini saja, asrama wanita itu ada di sini. Hampir dekat dengan ibu kota,” sahut si lelaki dengan santai dan terus berjalan diikuti oleh Jamilah yang masih memeluk erat kresek merahnya, tiwul sangu Mbok Pinah belum dikunyah barang sejumput, bungkusannya dia ikatkan erat pada lipatan jarik merah.
Lelaki itu lalu memanggil kusir delman dan menyuruh Jamilah naik lebih dulu ke atas. Jamilah mulai merasa sedikit takut tetapi ini sudah manjadi tekadnya, harus dapat kerja! Jamilah menurut menaiki delman itu yang membawanya berjalan jauh dan lambat selama dua jam lebih ke sebuah tempat yang lebih sepi, jauh dari keramaian. Lelaki itu memberinya sebungkus gado-gado yang dibelinya di pinggir jalan. Dengan gemetar, ia mulai makan. Dalam hati dia berdoa agar perjalanan delman ini memang menuju ke tempat seharusnya dia bekerja.
“Mbak, ayo turun. Ini asramanya!” seru lelaki itu lebih dulu melompat turun. Delman itu berhenti di sebuah gedung tua bertuliskan “Asrama Wanita Djanji Joeang”.
“Hmmm jadi ini asramanya?” ucap Jamilah dalam hati, “Ah ini benar-benar asrama wanita, beruntung aku sempat belajar membaca bersama pakde.”
Di halaman asrama itu sudah menunggu beberapa orang dan sekelompok perempuan yang duduk di teras.
“Ayo sebelum masuk kita berfoto dulu!”. Lelaki yang membawa Jamilah mengambil kamera dari tasnya dan para perempuan disuruhnya berjejer dengan Jamilah diposisikan di tengah. Jamilah terheran-heran dengan sambutan calon pembantu yang seperti ini. Tetapi karena dia belum pernah bekerja di tempat orang sebelumnya, dia menurut saja. Jamilah juga heran melihat keadaan asrama yang seperti kapal pecah, porak-poranda, seolah para wanita di dalamnya tidak peduli lagi pada keadaan lingkungannya. Pun penghuninya hanya tinggal beberapa, gelintir wanita murung tanpa cahaya di mata mereka. Jamilah mengajak berkenalan tetapi para perempuan itu hanya memalingkan wajah.
“Sungguh aneh, asrama wanita apa ini?” tanyanya dalam hati.
Di ruang tamu, Jamilah sempat melihat potongan koran berisi berita-berita politik yang tak dimengertinya. Tiba-tiba matanya tertuju pada foto wanita yang terpajang di selembar koran. Pada judulnya tertera “Jameelah, ketua gerakan wanita “Djanji Joeang”. Foto wanita itu entah kenapa begitu mirip dengan wajahnya. Jamilah heran dengan semua kebetulan ini, kebetulan dapat pekerjaan tanpa susah payah mencarinya, kebetulan wajah yang mirip, kebetulan nama yang juga hampir sama dengan perempuan itu.
Malam hari Jamilah yang kelelahan, tertidur di antara tumpukan lipatan pakaian yang dipungutinya di lantai ruang baca dan lorong-lorong kamar. Di kamarnya yang diterangi lampu 5 watt, belum sampai nyenyak tertidur, tiba-tiba pintu kamarnya digedor dengan sangat keras.
“Saudari Jamilah, cepat keluar!” Terdengar suara laki-laki dari luar kamar memanggil namanya. Mata Jamilah sesungguhnya teramat berat dan kantuknya masih sangat terasa. Namun, suara dari luar itu terdengar semakin keras, gedorannya hampir merobohkan pintu dan telah membuat jantungnya berdentam cepat. Jamilah membuka pintu kamarnya. Alangkah kagetnya gadis itu ketika melihat banyak lelaki berseragam dengan membawa senjata laras panjang di depan kamarnya. Salah satunya bahkan membawa borgol yang langsung dipakaikan di kedua tangan Jamilah.
“Saudari Jamilah, Anda ditahan sehubungan kasus 30 September,” ujar salah satu lelaki berseragam itu.
“Apa Maksud Bapak? Saya baru saja bekerja di sini. Saya cuma pembantu!”
“Anda bisa menjelaskan hal itu di persidangan, sekarang Anda ikut kami!”
Di perjalanan, Jamilah sempat melihat lelaki yang membawanya untuk bekerja di asrama wanita itu sedang duduk di warung kopi sambil memerhatikan rombongan pasukan penangkap wanita itu. Jamilah kembali berteriak.
“Bapak, Bapak, tolong Jamilah ditangkap!” teriaknya sambil menangis dengan suara yang telah parau dan serak. Kerongkongannya telah kering tetapi teriakannya sia-sia saja. Lelaki itu hanya asyik menyeruput wedang kopi hitam nan kental.
Bentakan salah seorang pria berseragam menghentikan teriakan Jamilah.
“Diamlah wanita sadis! Kowe penari 'Harum Bunga' itu kan? Kau sudah menyileti kelamin lelaki abdi negara dan kini kau berteriak-teriak minta dibebaskan, sungguh memalukan!”
Esok pagi di hampir seluruh media koran dan radio, panglima tertinggi mengungkapkan dalam pidatonya tentang sekelompok wanita yang telah melakukan kejahatan. Panglima tertinggi itu mengatakan bahwa kaum wanita yang tergabung dalam kelompok Djanji Joeang tidak mencerminkan sebagai wanita yang seharusnya mendidik keluarga, memegang kesetiaan terhadap bangsa, agama dan negara, sehingga layak dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya. Generasi muda kita harus diselamatkan agar tidak terjerumus ke dalam kerusakan moral kaum kontrarevolusioner.
Sementara di dusun kaki Gunung Semeru, Abah mendengar seruan panglima tertinggi itu dari sebuah radio suak milik kepala dusun. Ia tak pernah menyangka putrinyalah salah seorang wanita yang dimaksud oleh Sang Panglima.
Semenjak itu, Mbok Pinah dan Abah tak pernah memeluk kembali gadis kesayangan mereka yang telah dipenjarakan dan mendapat perlakuan seburuk entah. Ada banyak Jamilah lain yang tertangkap dengan tuduhan serupa kala itu. Genosida, bukanlah imajinasi belaka. (far/k16)
(mengenang peristiwa 30 September 1965)
Shanti Agustiani
Instagram: shantiagustiani
Pendidikan S-2 UNJ, jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan dan S-1 Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. Telah menghasilkan puluhan buku, baik fiksi dan cerita anak. Juga rutin menulis artikel pendidikan yang dimuat di beberapa koran lokal.
Tinggal di Kelurahan Timbau, Tenggarong, Kutai Kartanegara.
Editor : izak-Indra Zakaria