Pemimpin Hamas Kirim Surat ke Jokowi, Begini Isinya....Bikin Haru sekaligus Pilu
izak-Indra Zakaria• 2021-05-15 12:43:23
Situasi di Palestina masih memanas seusai bentrokan di Masjidilaqsa (Masjid Al Aqsa). Israel mengebom kota Gaza.
JAKARTA– Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh mengirim surat kepada Presiden Joko Wdodo (Jokowi). Ismael Haniyeh mengajak masyarakat Indonesia untuk mengambil tindakan solidaritas atas situasi yang tengah terjadi di Palestina saat ini.
Lewat surat yang dikirim pada Senin (10/5) lalu, Haniyeh menyampaikan salam Ramadhan dan Idul Fitri kepada seluruh bangsa Indonesia. “Kami menulis surat ini kepada Yang Mulia pada hari-hari penuh berkah di bulan suci Ramadhan ini, bulan solidaritas, kerja sama, dan kemenangan.”
“Kami semua berharap dan percaya bahwa umat Islam akan menjadi seperti satu struktur konkret untuk berdiri bersama Yerusalem dan Masjid Al Aqsa yang diberkahi, untuk mengusir agresi dan kriminalitas pendudukan Israel,” “Untuk mencegahnya melanjutkan terornya, untuk mengekang kawanan pemukimnya,”
“Dan untuk mendukung ketabahan dari orang-orang Yerusalem dan orang-orang Ribat ditempatkan di Masjid Al Aqsa untuk menjaganya,” ujar Haniyeh dalam surat tersebut. Ia mengatakan, bangsa Palestina telah menunjukkan ketabahan dan kesabaran selama lebih dari 50 tahun untuk mempertahankan tanah dan kesucian Yerusalem atas nama seluruh umat Islam. Ia juga mendorong pemerintah Indonesia memobilisasi dukungan politik untuk Palestina.
Bangsa Palestina tidak akan menyerah dan akan terus melawan sampai pembebasan dan pengembalian negara Palestina, dengan Yerusalem sebagai ibukotanya.
Warga Palestina Korban pengeboman Israel. (ALJAZEERA)
“Anda telah mengikuti bagaimana Masjid Al Aqsa yang diberkati dan alun-alunnya, serta putra putri pemberani membela Al Aqsa terkena serbuan, penodaan, penindasan, dan kebrutan.”
“Belum lagi menutup masjid dan menolak akses jamaah Muslim ke sana untuk doa dan shalat,” jelasnya kepada Jokowi. Dengan melakukan praktik seperti itu, Haniyeh melanjutkan, Israel berusaha untuk melegitimasi aktivitas permukiman.
Juga menggusur dan mengambil alih rumah dan properti, memaksakan pembagian Masjid Al Aqsa dan mengubah status quo.
“Kami, dalam gerakan Hamas, dan dalam menghadapi agresi dan kriminalitas yang dilakukan oleh pendudukan Israel di bulan suci ini, dan mengenai situasi yang memburuk dan berbahaya di kota Yerusalem yang diduduki dan Masjid Al-Aqsa yang diberkati,”
“Yang kami peringatkan bahaya dan akibatnya, menyerukan kepada Anda untuk mengambil tindakan segera dan sikap tegas terhadap agresi dan kejahatan ini,” “Dan untuk bekerja untuk memobilisasi posisi politik dan diplomatik di tingkat Arab, Islam dan internasional,” “Untuk mencegah pendudukan melanjutkan biadabnya agresi terhadap rakyat Palestina, tanah dan kesucian di kota Yerusalem yang diduduki, dan, pada intinya, Masjid Al-Aqsa,” tandasnya.
MAKIN MELAWAN
Sementara itu Gerakan Jihad Islam menyatakan takkan mundur sejengkal pun meski Israel meningkatkan serangan. Juru bicara kelompok Saraya Al-Quds, Abu Hamza memperingatkan Israel agar tidak memberikan ancaman untuk sekedar jadi pemenang.
Saraya Al-Quds adalah cabang militer dari gerakan Jihad Islam Palestina. Itu disampaikan menanggapi serangan Israel di Jalus Gaza yang dilancarkan pada Kamis (13/5). Dikutip dari Iran Press, Jumat (14/5/2021), pihanya menekankan bahwa pertempuran darat adalah cara tercepat dalam memberikan perlawanan terhadap tentara Zionis.
Dengan kebersamaan, mereka akan menumpas segala kekejaman yang mengganggu dan menghancurkan rakuat Palestina. “Serangan musuh tidak akan pernah mengubah strategi perlawanannya. Dan musuh yang kalah, akan meninggalkan medan perang,” kata Abu Hamza.
Abu Hamza menekankan, perlawanan terhadap tentara Zionis itu akan tetap kuat. Meskipun ratusan serangan udara dilancarkan untuk menghancurkan rakyat Palestina. Ia menggambarkan tentara mujahidin sebagai ksatria yang melawan rezim dengan kekuatan yang dimilikinya di medan perang.
Mereka bahkan mengorbankan komandan mereka di hadapan tentara dalam pertempuran ini. Ia merasa sangat bangga dan beruntung memilki saudara orang-orang Palestina yang sabar yang menghabiskan hari-hari Idul Fitri dengan darah dan kesyahidan.
“Kami bangga kepada orang-orang Palestina, bersama kami melawan kekejaman zionis, mengorbankan hidup mereka untuk Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa,” kata Abu Hamza.
USUL PENJAGA PERDAMAIAN
Situasi di Palestina masih memanas seusai bentrokan di Masjidilaqsa (Masjid Al Aqsa). Kalangan dewan mendorong pemerintah Republik Indonesia (RI) berperan aktif demi menciptakan situasi kondusif di Palestina.
Anggota Komisi I DPR Sukamta menyebutkan, apabila tensi konflik antara Palestina dan Israel tidak kunjung reda, dikhawatirkan terjadi perang terbuka. Jika itu terjadi, hampir bisa dipastikan, makin banyak jatuh korban dari warga sipil. ”Sebagaimana saat agresi militer Israel ke wilayah Gaza pada 2014, yang menewaskan 2.251 warga Palestina,” kata Sukamta dalam pernyataan tertulis (14/5).
Sukamta menyatakan, saat ini tercatat sudah 113 warga sipil yang meninggal akibat tensi konflik dua hari terakhir. Sebanyak 31 di antaranya adalah anak-anak. Selain mengungkapkan keprihatinan, Sukamta berharap pemerintah bisa mendorong PBB untuk menurunkan pasukan perdamaian untuk mencegah meluasnya konflik kedua negara.
Wakil ketua Fraksi PKS DPR tersebut menyadari bahwa usul menerjunkan pasukan perdamaian terbilang sulit. Sebab, rencana dan keputusan Dewan Keamanan (DK) PBB selalu diveto pemerintah Amerika Serikat. Bahkan bila bentuknya hanya berupa kecaman terhadap Israel dan menyatakan konflik ini sebagai kejahatan perang.
”Tetapi, saya harap setiap usaha untuk mencegah meluasnya kekerasan dan konflik harus tetap diupayakan sekuat tenaga,” tutur legislator dapil Jogjakarta itu. Pemerintah RI juga bisa mendorong usul yang sama melalui sidang darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Sukamta juga mengusulkan agar pemerintah RI ikut berpartisipasi dengan menyiapkan pasukan terkait. Kontingen Garuda (Konga), sebutan pasukan perdamaian dari RI, sudah terlibat aktif di DK PBB sejak 1957. Selama ini langkah Indonesia ikut dalam penerjunan pasukan perdamaian PBB mendapat respons positif dari dunia internasional.
Sukamta optimistis penugasan ke wilayah Palestina akan disambut dengan antusias oleh pasukan TNI. ”Sebab, pemerintah Indonesia selama ini berkomitmen kuat mendukung kemerdekaan Palestina dan solusi kedua negara sebagai langkah perdamaian di sana,” yakinnya. (deb/c9/bay/rmol/ruh/pojoksatu)