Kaltim berduka. Kehilangan satu sosok dokter terbaik yang sudah mendedikasikan diri puluhan tahun. Dokter Daniel Umar, satu dari lima spesialis forensik di Benua Etam, telah meninggal dunia. Namun, dedikasinya bagi dunia forensik Benua Etam, tidak pernah hilang.
NOFIYATUL CHALIMAH, Samarinda
Selasa (3/8), kabar duka tersebar di berbagai sosial media. Dokter Daniel Umar, mengembuskan napas terakhirnya. Sejak 27 Juli 2021, dokter Daniel berjuang melawan Covid-19, namun perlawanannya terhenti.
Isak tangis mengantar kepergian dokter Daniel menuju tempat peristirahatan terakhirnya, dari tempatnya mengabdi puluhan tahun, Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie (RSUD AWS).
Dokter Daniel menjadi sosok yang berjuang dalam penanganan Covid-19 di Benua Etam. Dia membagikan ilmu soal protokol pemulasaran jenazah pasien Covid-19. Hal ini diamini Plt Kepala Dinas Kesehatan Samarinda Ismid Kusasih.
"Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran. Beliau dokter yang baru saja memberi pengetahuan kepada kita cara pemulasaran jenazah pasien Covid-19 sesuai protokol kesehatan di kecamatan," ucap Ismid.
RSUD AWS, tempat dokter Daniel mengabdi, pun merasakan kehilangan. Di mata Direktur Utama RSUD AWS David H Masjhoer, kepribadian dokter Daniel begitu berkesan.
"Beliau orang yang baik sekali. Dedikasinya terhadap rumah sakit dan keilmuannya tinggi sekali," kata David.
Dalam pergaulan, dokter Daniel dikenal sebagai sosok yang supel dan sederhana. Dokter kelahiran Tana Toraja, 28 Oktober 1959, itu juga selalu menyelesaikan tugasnya. Dia tak pernah menghitung-hitung pekerjaannya, dan berdedikasi tinggi.
Kaltim Post pada 2015 pernah mewawancarai mendiang terkait kiprahnya di dunia forensik. Dokter Daniel mengisahkan, dahulu dia tak menyangka akan berkecimpung dengan dunia yang berhubungan dengan jenazah. Setelah dua tahun mengawali karier sebagai dokter umum di RSUD AW Sjahranie Samarinda.
Pada 1995, Daniel ditugaskan di instalasi forensik RSUD AWS. Tak disangka, dunia forensik memberinya banyak pengalaman. Tak hanya pengalaman yang mengesankan, kadang pengalamannya terasa begitu heroik.
“Kebahagiaan itu apabila berhasil mengidentifikasi jenazah dan mempertemukan dengan keluarganya, atau membantu polisi mengungkap tabir penyebab kematian seseorang,” ucap mendiang saat itu.
Salah satu pengalaman yang paling diingatnya adalah ketika berhasil mengungkap kasus pembunuhan pada 2007. Saat itu, dirinya mendapat jenazah yang disebut sebagai korban kecelakaan. Namun, setelah dia memeriksa secara seksama, terdapat luka-luka tanda pembunuhan di tubuh korban.
"Menyadari hal tersebut, saya langsung menelepon kepolisian. Setelah ditelusuri polisi, syukurlah tidak berapa lama, pembunuhnya ditangkap,” urai ayah tiga anak tersebut ketika berbincang dengan Kaltim Post kala itu.
Terjun ke dunia forensik bagi dokter Daniel terbilang tak disengaja. Daniel memantapkan perannya dengan mengambil gelar spesialis forensik di Universitas Airlangga, Surabaya. Baginya, forensik sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Tubuh hancur dan bau menyengat sudah biasa dihadapi Daniel. Tak ada jijik atau perasaan seram melihat mayat. Bertugas puluhan tahun, berbagai kondisi jenazah pernah dia tangani.
Menurut Daniel, menjadi ahli forensik memang bukan perkara mudah. Kesabaran, ketelitian, dan kekuatan mental benar-benar diperlukan. Hal yang paling menyulitkan identifikasi, selain kondisi jenazah yang hancur, adalah desakan dari keluarga.
“Beberapa waktu yang lalu ada keluarga datang yang mengaku kerabat Mr X, sudah nangis-nangis dan mengatakan kepada kami kalau itu benar anggota keluarganya yang hilang. Ternyata setelah kami periksa, bukan keluarganya yang hilang. Kalau kami tidak mengikuti prosedur, keluarga tersebut bisa pulang bawa jenazah orang lain,” cerita mendiang soal pengalamannya.
Namun, kini sosok dokter murah senyum telah tiada. Kaltim memang masih punya spesialis forensik lain. Meski begitu, sosok Daniel Umar telah banyak membantu warga Kota Tepian. Dari membantu pengungkapan kejahatan, hingga penanganan Covid-19 di Benua Etam. (dwi/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria