Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kisah Mbah Koesman, Veteran Balikpapan yang Tersisa

izak-Indra Zakaria • 2021-08-19 10:25:38
Mbah Koesma
Mbah Koesma

Setelah gagal meledakkan pembangkit listrik yang dikuasai Belanda, dua pemuda; Abdul Mutholib Sugito bersembunyi di Penajam Paser Utara. Sampai saat ini, Mbah Koesman tak mengetahui ke mana dua orang penting tersebut.

 

RIANI RAHAYU, Balikpapan

 

17 Agustus 1945, sekira pukul 10.00 di Jakarta. Kala itu, Indonesia bersukacita setelah dibacakannya naskah Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Soekarno didampingi Mohammad Hatta. Perjalanan panjang perjuangan melepaskan diri dari belenggu penjajah telah mencapai puncaknya. Meski begitu, rupanya tak semua daerah menerima kabar baik tersebut. Salah satunya Balikpapan. Warga Balikpapan baru tahu adanya proklamasi kemerdekaan tiga bulan kemudian.

Prayitno Djaya Dwiharjo, salah seorang veteran Balikpapan pada masa itu menceritakan, saat proklamasi dikumandangkan, Balikpapan justru harus berhadapan dengan pasukan Belanda yang baru saja menginjakkan kakinya. Sebelumnya, seluruh akses informasi diputus tentara Jepang yang menduduki Balikpapan. “Jadi kami baru dengar (belakangan) jika di Jakarta, Bung Karno dan Bung Hatta menyatakan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945,” ucap Prayitno yang kini berusia 90 tahun kepada Kaltim Post di kediamannya.

Pria yang sering disapa Mbah Koesman itu melanjutkan, ada seorang pria bernama Abdul Mutholib yang memegang peranan penting menggerakkan kelompok pemuda di Balikpapan. Pria yang digambarkan berpangkat sersan itu, merupakan tokoh utama dan dipercaya para warga Balikpapan untuk membentuk Komite Indonesia Merdeka. Para pemuda lokal dan pendatang kala itu mendorong Abdul Mutholib agar segera menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia yang baru. “Singkatnya, masyarakat Balikpapan mendukung Kemerdekaan Republik Indonesia dan bergabung menjadi satu warga Republik Indonesia,” jelasnya.

Ketika Balikpapan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia, saat itu Balikpapan dalam peralihan kekuasaan. Dari semula Jepang ke Belanda yang berhasil mengalahkan pasukan Negeri Matahari Terbit. Setelah komite yang dinakhodai Abdul Mutholib terbentuk dan menyatakan dukungan terhadap NKRI, situasi pun memanas. Para tentara Belanda, kata Mbah Koesman, langsung melakukan penangkapan terhadap Abdul Mutholib saat berada di podium.

Ketika itu, Abdul Mutholib menyampaikan kepada Pemerintah NICA alias Belanda agar meninggalkan Balikpapan. Serta meminta Pemerintah Belanda agar mengembalikan mata uang Jepang yang dirampas. Mata uang tersebut sebelumnya digunakan masyarakat Balikpapan sebagai alat transaksi ekonomi. “Karena pada saat itu, NICA (Netherland Indies Civil Administration/ pemerintahan sipil Hindia Belanda) belum mengeluarkan mata uang, dan warga butuh untuk keperluan belanja. Jadi, itu salah satu permintaannya. Hanya saja NICA tidak bisa mengabulkan itu,” tutur dia.

Alasannya, kata Mbah Koesman, NICA saat itu belum mendapat persetujuan dari kantor pusatnya di Brisbane, Australia. Mendengar hal itu, Abdul Mutholib pun menyuarakan kepada seluruh kelompok pemuda agar melakukan serangan bersenjata ke markas Belanda. Setelah segala persiapan telah matang dan senjata sudah didapatkan, pada 18 November 1945, para kelompok pemuda langsung melakukan serangan umum dari pos masing-masing kawasan. Abdul Mutholib memerintahkan salah satu kelompok pemuda agar menghancurkan pembangkit listrik yang dikuasai Belanda di Asrama Bukit Balikpapan.

Tujuannya mengganggu penerangan di Balikpapan saat itu. Sayangnya, granat yang diluncurkan tak mengenai mesin tenaga listrik. Senjata peledak yang dilempar hanya mengenai bak pendingin pembangkit. Serangan gagal dan para pemuda mundur. “Akhirnya, Belanda mencari tahu siapa pemimpinnya dan setelah tahu Abdul Mutholib, mereka langsung melakukan pencarian,” terangnya. Abdul Mutholib dan ketua kamp penyerangan lainnya; Sugito, harus diamankan dan dilarikan ke Balikpapan Seberang yang saat ini telah berganti nama menjadi Penajam Paser Utara (PPU).

Hingga saat ini, Mbah Koesman tak mengetahui ke mana dua orang penting tersebut. Kepergian tokoh penting dalam aksi pemberontakan saat itu, tak membuat warga Balikpapan mundur begitu saja. Jiwa yang bergejolak dan kemampuan bergerilya dikerahkan. Selama dua tahun sejak proklamasi kemerdekaan berkumandang, warga Balikpapan berjuang habis-habisan merebut Tanah Air dari pasukan Belanda. Singkatnya, sambung dia, setelah aksi pemberontakan besar-besar dilancarkan terus-menerus, pada 13 November 1948 Belanda akhirnya menyerah. Kala itu, pimpinan NICA menyerahkan kekuasaannya kepada warga Balikpapan melalui Mayor Laut Wiluyo Puspoyudo. Pengumuman penyerahan kekuasaan ini juga diumumkan di Jakarta.

Di kantor NICA (saat ini menjadi SD 9 Balikpapan Barat), kedaulatan bangsa Indonesia digaungkan dan bendera Merah Putih pun dikibarkan, disertai pernyataan kemerdekaan. “Di kantor NICA pertama kali penyerahan kedaulatan di situ. Nama Wiluyo Puspoyudo lalu diabadikan sebagai nama jalan. Pertama kali bendera Merah Putih naik di situ juga,” ucapnya. Di balik kisah panjang itu, Koesman berpesan kepada para generasi muda agar mampu menjaga warisan kemerdekaan yang sudah diperjuangkan para pahlawan. Tidak membuat suatu perbuatan yang kurang baik atau melanggar undang-undang. Dirinya juga meminta agar generasi muda bisa mengingat dalam lubuk hatinya tentang perjuangan para pahlawan ketika berhadapan dengan para penjajah. “Saya serahkan kepada penerus negeri ini, jangan sia-siakan para pejuang yang telah tiada. NKRI jaga seutuhnya, NKRI adalah harga mati,” pungkasnya. (riz/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Seputar Balikpapan