Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Nazarudin Adiwijaya, Youtuber 1,6 Juta Subscriber Asal Muara Jawa

izak-Indra Zakaria • 2022-10-28 12:45:55
Nazarudin Adiwijaya
Nazarudin Adiwijaya

SEJAK berseragam putih merah, Nazarudin Adiwijaya atau karib disapa Rudy, memang gemar menggambar. Sebagian besar adalah tokoh anime. Apa yang matanya lihat, di situ juga tangannya bergerak memegang pensil. Tiada hari tanpa menggambar. Rudy kecil menikmati setiap prosesnya. Walau menurutnya hasilnya masih kalah bagus dengan teman lainnya. Ketika masuk SMA, dia merasa gambarnya lebih bagus. Buah dari konsisten dan pengalaman. Kala itu, 2017, dia juga suka membaca komik.

"Kayaknya aku jago gambar. Aku pengin jadi komikus. Cari-cari lah di YouTube bagaimana, ternyata harus punya laptop. Sedangkan aku bukan dari keluarga berada. Enggak memadai," beber alumnus SMA 1 Muara Jawa, Kutai Kartanegara, itu. Dia pun menantang dirinya sendiri. Mesti memiliki penghasilan sendiri pada umur 17. Urusan akademis, Rudy juga terbilang cerdas. Sejak SMP selalu menduduki peringkat tiga besar. YouTube kembali jadi referensi. Dari sana, dia mulai berpikir apa mereka yang mengunggah konten di YouTube dapat menghasilkan uang?

"Nonton youtuber vlog mancing. Pulang sekolah kan jam 2–3 sore, jadi tiap hari coba bikin 6–7 video. Karena kan rumahku di Dondang, dekat sungai. Aku juga suka mancing. Tapi ternyata enggak dapat-dapat (ikan). Nah, jadi pas awal itu kan butuh tripod ya.

Itu modal awal untuk orang mau nge-vlog. Ternyata keliling seluruh Handil, itu enggak ada orang jual. Akhirnya titip sama teman di sekolah yang biasa beli online. Ongkos kirimnya lebih mahal dari barangnya," sebutnya lalu tergelak. Dari situlah dia membuat channel Rudy WFA. "Jadi kan memang awalnya bikin vlog mancing. WFA itu wild fishing adventure," lanjut dia.

Upayanya untuk membuat konten tak berhenti. Rutinitas setiap hari kala itu bangun jam 3 subuh untuk mengedit video. Namun usahanya dengan konten memancing hanya bertahan dua minggu, tanpa menghasilkan apa-apa. Rudy mulai menyadari bakat gambarnya. Kembali dia mencari referensi youtuber dengan konten gambar. Setiap hari sepulang sekolah dia gunakan untuk membuat video tutorial menggambar. Dia konsisten mengunggah satu video setiap hari selama 100 hari. Namun setelah tiga bulan berlalu, mulai terlihat peningkatan dari jumlah subscriber.

Kreativitas dimainkan. Tak hanya tutorial menggambar, dia coba gabungkan karakter. Pengikut naik hingga 10 ribu. Hingga Rudy merasa jika kontennya tak beranjak naik. Pada satu momen, dia melihat konten youtuber horor yang bercerita lewat gambar. Dari situ dia mulai tertarik. Dia membuat persiapan. Naskah, merekam suara dan tentu saja gambar. "Kan yang dikerjain banyak, aku enggak bisa upload setiap hari. Enggak bisa sendiri. Aku ajak temanku, Rian dan Ahmad. Dan mereka ini temanku dari kecil. Rian ini jago komputer, dan Ahmad itu jenius menurutku. Satu sekolah enggak ada yang lebih jenius dari dia," beber pria kelahiran 2001 itu.

Ahmad bertugas sebagai penulis cerita atau mencari ide. Rudy bagian teknis, menggambar dan rekam suara. Sedangkan Rian kedapatan peran untuk mengedit konten sebelum tayang. Setiap malam dua kawannya itu selalu datang ke rumahnya. Namun, mereka tetap berusaha agar bisa mendapatkan uang lewat YouTube. Mereka memutuskan membuat konten horor dengan konsep draw story. Alasannya sederhana, penikmat horor di Indonesia lumayan tinggi.

Berbagai konten dibuat. Mulai asal usul hantu, hingga berbagai kisah misteri lain. Termasuk memasukkan unsur lokal, berbagai hantu asal Kalimantan. "Termasuk yang tinggi juga penontonnya, jutaan itu yang soal hantu kuyang," jelas anak kedua dari tiga bersaudara itu. Mendaftar iklan atau ad-sense yang bahkan ditolak hingga dua kali. "Jatahnya itu sampai tiga kali, kalau sudah tiga kali gagal ya enggak bisa lagi. Alhamdulillah yang ketiga bisa. Dari situ juga konsisten upload setiap hari. Baru 5–6 video, naik sampai 30–40 ribu subscriber. Pernah bikin kisah sedih, ternyata lebih banyak horor yang disuka," lanjutnya.

Silver play button sebagai penghargaan atas 100 ribu subscriber dia raih saat kelas tiga SMA. Angka subscriber semakin naik. Pendaftaran ad-sense ternyata tertunda tiga bulan. "Ternyata itu dapat Rp 53 juta. Dari situ mulai fokus. Enggak mikir foya-foya. Ada sekitar Rp 30 jutaan itu habis buat beli berbagai peralatan. Laptop, handphone, meja, dan lain-lain pokoknya," jelas dia. Kala itu juga orangtuanya tak percaya. Sebab rekening yang didaftarkan adalah milik sang bapak. "Mikirnya karena memang hobi gambar. Jadi enggak sampai bisa hasilkan uang. Ternyata bisa, itu langsung ditarik semua uangnya dan dibawa pakai kantung kresek sama orangtuaku," beber Rudy kemudian tertawa.

Kini hanya Rudy dan Rian yang mengelola channel Rudy WFA. Sebab, Ahmad sedang fokus lanjutkan kuliah. Setiap bulan, pendapatannya tak tentu. Bergantung dari jumlah yang melihat video mereka. Tertinggi, dalam sebulan bisa hasilkan Rp 40 juta. Dan pernah pula hanya Rp 10 juta. Kini plakat golden play button untuk 1 juta subscriber sudah dia dapatkan. Pencapaian yang menurutnya melewati proses. Tak instan dan tak mudah.

Dia ingat benar ketika sang guru mengetahui jika dia membuat aneka konten. "Jadi kayak inspirasi buat teman-teman lainnya. Dan sampai sekarang belum ada satu pun yang jadi. Ya karena memang prosesnya itu. Ketika gagal, aku percaya kalau kegagalan itu justru semakin dekat dengan keberhasilan. Jadi memang enggak menyerah," jelasnya. Per 25 Oktober, sudah ada 659 video di channel-nya. Bahkan, penonton tertinggi salah satu video mencapai 18 juta penonton. Rudy juga menyebut, jika sejak SMA dia memang selalu berpikiran terbuka. Termasuk termotivasi dari konten mengenai success before thirty. "Orang sukses itu kan beda-beda. Tapi pemikirannya sama, yang aku pelajarin adalah cara berpikirnya," sambung dia.

Jika dihitung, gagal yang dilewatin Rudy tak sedikit. Pernah mencoba berbagai konten lain. Termasuk membuat channel lain. Namun gagal. Pernah juga mencoba rekrut enam ilustrator dan tak berhasil juga. Satu yang Rudy tekankan, cobalah bermain dengan kreativitas untuk menaikkan nilai konten yang dibuat. Dia mengatakan jika saat ini konten kreator semakin banyak. Sebab itu, penting untuk menjadi beda. "Orang yang gambarnya bagus lebih banyak. Tapi kalau semua cuma gambar aja, ya biasa aja. Tapi kalau ada kreativitasnya, dibikin beda. Dan itu perjalanan panjang untuk menemukan apa yang beda itu," ungkapnya. (riz/k8)

 

RADEN RORO MIRA

@rdnrrmr

 

 

Editor : izak-Indra Zakaria